Raung buldozer gemuruh pohon tumbang
Berpadu dengan jerit isi rimba raya
Tawa kelakar badut-badut serakah
Dengan hph berbuat semaunya
Lestarikan alam hanya celoteh belaka
Lestarikan alam mengapa tidak dari dulu…
Oh mengapa…..
Oh…oh…ooooo……
Jelas kami kecewa
Menatap rimba yang dulu perkasa
Kini tinggal cerita
Pengantar lelap si buyung
Bencana erosi selalu datang menghantui
Tanah kering kerontang
Banjir datang itu pasti
Isi rimba tak ada tempat berpijak lagi
Punah dengan sendirinya akibat rakus manusia
Lestarikan hutan hanya celoteh belaka
Lestarikan hutan mengapa tidak dari dulu saja
Oh…oh…ooooo……
Jelas kami kecewa
Mendengar gergaji tak pernah berhenti
Demi kantong pribadi
Tak ingat rejeki generasi nanti
Bencana erosi selalu datang menghantui
Tanah kering kerontang
Banjir datang itu pasti
Isi rimba tak ada tempat berpijak lagi
Punah dengan sendirinya akibat rakus manusia
Isi rimba tak ada tempat berpijak lagi – Iwan Fals
***
Dimulai dari sebuah obrolan yang biasa saja, sekedar basa-basi.
Bapak, sepuluh, limabelas, tahun yang lalu daerah ini seperti apa? Apakah sudah segersang dan seterang ini? Bapak yang sudah berumur 50 tahun lebih sepertinya itu mengatakan “dulu aku masih bisa melihat burung terbang dan kicauan burung”. Hawanya tidak sepanas sekarang, sekarang rasa-rasanya teriknya sangat menyengat.

Sejauh mata memandang
Suasana siang itu begitu singkat untuk dilewati dengan cerita tentang sangar dan gaharnya hutan di wilayah Borneo ini. Cerita tentang bagaimana serunya orang dayak dahulu dalam melintas daerah yang berimba dengan menggunakan perahu klasik mereka. Tanpa suara mesin, tanpa sinyal telepon seluler, tanpa kecanggihan teknologi. Seolah aku dibawa terbang ke masa itu. Setidaknya begitulah gambaran cerita yang kutangkap dari dogengan malam itu. Continue reading ‘Sepatah Cerita Borneo (2)’



Recent Comments