Inspirasi Untuk Menulis

•November 16, 2011 • 3 Comments

Ketika saya berencana untuk menulis sesuatu di blog ini dan sedang mencari inspirasi untuk bahan tulisan. Saya menjelajahi beberapa jendela internet untuk mencari semacam inspirasi atau bisa dikatakan sebuah ide yang bisa dituangkan dalam tulisan yang akan saya posting disini. Tidak jarang inspirasi itu muncul dari ide cerita yang berasal dari orang lain dan kemungkinan ada kemiripan cerita dari yang saya alami, maka mulailah saya menulis. Sesekali saya membaca tulisan yang bertemakan lingkungan dengan segala macam cerita anti global warming-nya, penghijauan dan segala macam isu lingkungan. Ada juga cerita tentang isu-isu sosial kemasyarakatan, cerita perkembangan politik negara dan dunia hingga cerita konyol sehari-hari. Ajaibnya, saya mudah terinspirasi dari sana. Saya bisa menulis tulisan yang memiliki kemiripan  pada cerita dan beberapa alur, sejurus kemudian dengan modal itu saya dengan mudah bisa menuangkannya dalam tulisan dan gaya bahasa (kalau memang bisa disebut gaya bahasa) saya sendiri.

Kini saya menjadi sedikit bingung apakah saya ini terkesan seperti mencontek atau meniru gaya penulisan seseorang? Saya merasa sering kehilangan ide dan gaya penulisan, sehingga terlihat seperti kehilangan arah penulisan antar  paragraf pada tiap posting-an. Ada kalanya tulisan terkesan terlalu serius namun bahan yang disajikan itu tidak mendalam. Terkadang juga tulisan saya terlalu biasa dan memang sangat biasa untuk diceritakan sehingga terasaseperti masakan tanpa bumbu. Namun terkadang juga saya merasa ada dari tulisan yang pernah saya baca (tulisan orang lain) menceritakan hal yang sangat biasa, namun cara penyajian dalam tulisan tersebut membuat menarik untuk dibaca. Apakah ini menunjukkan isi cerita bukanlah segalanya, asal disajikan dengan sajian yang menarik? Atau sebaliknya?

Hingga saya menemukan karya Taufik Ismail berikut.

****

Kupu-kupu di dalam Buku

Ketika duduk di setasiun bis, di gerbong kereta api,
di ruang tunggu praktek dokter anak, di balai desa,
kulihat orang-orang di sekitarku duduk membaca buku,
dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang,

Ketika berjalan sepanjang gang antara rak-rak panjang,
di perpustakaan yang mengandung ratusan ribu buku
dan cahaya lampunya terang benderang,
kulihat anak-anak muda dan anak-anak tua
sibuk membaca dan menuliskan catatan,
dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang,

Ketika bertandang di sebuah toko,
warna-warni produk yang dipajang terbentang,
orang-orang memborong itu barang
dan mereka berdiri beraturan di depan tempat pembayaran,
dan aku bertanya di toko buku negeri mana gerangan aku sekarang,

Ketika singgah di sebuah rumah,
kulihat ada anak kecil bertanya pada mamanya,
dan mamanya tak bisa menjawab keinginan-tahu puterinya,
kemudian katanya,
“tunggu, tunggu, mama buka ensiklopedia dulu,
yang tahu tentang kupu-kupu,”
dan aku bertanya di rumah negeri mana gerangan aku sekarang,

Agaknya inilah yang kita rindukan bersama,
di setasiun bis dan ruang tunggu kereta-api negeri ini buku dibaca,
di perpustakaan perguruan, kota dan desa buku dibaca,
di tempat penjualan buku laris dibeli,
dan ensiklopedia yang terpajang di ruang tamu
tidak berselimut debu
karena memang dibaca.

Taufiq Ismail, 1996

****

Setelah membaca karya tersebut diatas, sekelebat kemudian inspirasi pun muncul dikepala bersamaan dengan gagalnya saya menulis untuk kali ini.  Kenapa? Dari sini saya sadar mengapa belakangan ini saya jarang meng-update blog saya ini. Selain dikarenakan terbatasnya waktu dan terlalu sibuk dengan rutinitas tapi, -bisa jadi- lebih disebabkan oleh kurangnya referensi dan bacaan yang saya baca (baca: buku). Maka, mulai dari sini saya akan mencoba untuk memulai membaca dan kemudian mulai bercerita dengan tulisan. Saya jadi teringat perkataan seorang teman “Untuk menulis yang sedikit maka kita harus membaca yang banyak”  Sangat menarik.

Selomangleng, Sisa Kejayaan Kahuripan

•June 13, 2011 • 6 Comments

Sinar mentari tersaring dari rimbunnya pepohonan disambut suara kicau burung diantara ramainya pengunjung yang mulai berdatangan di taman wisata Selomangleng. Rombongan sepeda datang bersamaan dengan mobil dan sepeda motor yang saling berebutan tempat parkir, pagi ini sudah terlihat ramai. Tempat ini menyediakan beberapa tempat hiburan murah dan berwawasan wisata budaya di kota Kediri.

Sebuah kolam renang, wahana permainan anak, pesta musik dangdut hingga pasar kaget tersedia disini. Tapi bukan itu tujuan saya datang ke tempat ini. Saya sempat membaca beberapa artikel tentang kerajaan hindu di tanah Jawa pada abad ke-11 dan salah satu bukti peninggalannya ada disini, Goa Selomangleng. Sebuah tempat yang berkaitan erat dengan cerita rakyat dan bukti sejarah tentang kejayaan kerajaan-kerajaan Hindu abad ke-11. Cerita tentang Dewi Kilisuci, seorang puteri mahkota Airlangga yang terkenal dari kerajaan Kahuripan yang menjadikan tempat ini sebagai tempat pertapaannya. Tempat ini menjadi salah satu tempat tujuan wisata keluarga di kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Museum Airlangga

Terlihat jelas nuansa kerajaan Jawa begitu masuk ke area ini. Sebuah patung (tugu) besar Dewi Kilisuci menyambut pengunjung di awal pintu masuk. Pengunjung paling tertarik dengan wahana wisata air dan goa Selomangleng. Sebuah goa sejarah yang masih dapat dikunjungi dan dimasuki sampai sekarang. Selanjutnya terdapat juga sebuah bangunan bersejarah, Museum Airlangga, masih dalam kawasan tersebut. Tujuan utama kami adalah mengunjungi museum tersebut. Dari yang saya tahu museum ini menyimpan benda-benda sejarah sisa-sisa peninggalan kerajaan Kahuripan dan kemegahan masa tersebut. Benar saja, begitu masuk kedalamnya setelah membayar Rp. 1000/orang kami langsung disuguhkan berbagai macam batu berukir dan patung bermacam bentuk. Jauh dari bayangan saya tentang sebuah museum. Museum yang ada dalam bayangan saya adalah ruang besar, penuh dengan barang yang langka dan dikemas ekslusif seolah itu barang yang sangat berharga dan tidak bisa disentuh pengunjung. Keliahatannya aturan itu tidak berlaku di museum ini, betapa tidak, semua batu dan patung dibiarkan berdiri tegak dalam ruangan. Tak ada lemari kaca yang menahan dari debu atau pegangan dari pengunjung. Semua terkesan dibiarkan begitu saja.

Pajangan Patung Airlangga

Banyak batu yang dipajang dengan bermacam bentuk dan ukuran. Beberapa diantaranya diberi tulisan sebagai pengantar cerita dan keterangan. Semua benda sejarah dari kerajaan Kadiri dan Kahuripan ini adalah hasil penemuan dari arkeolog maupun warga sekitar yang disumbangkan ke Badan Cagar Budaya Kabupaten Kediri. Barang ini mempunyai nilai sejarah yang tinggi dalam mengambarkan bagaimana budaya dan kehidupan dijamannya. Tentang bagaimana peradaban dan berbagai cerita kehidupan kala itu bisa dilihat dari peninggalan batu dan beberapa alat perdagangan. Ada bermacam bentuk batu ukiran yang menceritakan tentang kehidupan kala itu, tentang perjalanan raja Airlangga sebagai pendiri kerajaan Kahuripan dan cerita tentang Dewi Kilisuci dapat ditemukan disini. Patung Airlangga pun dengan gagahnya dipamerkan diruangan tersebut. Banyak batu ukir yang menggambarkan tentang kehidupan masa peradaban Hindu dan Jawa jauh sebelum Indonesia terbentuk. Sebuah cerita yang harusnya lebih banyak diketahui oleh para generasi muda.

Suasana Di Dalam Museum

Suasana di dalam museum

Ada sebuah keganjilan yang terlihat saat saya berada di kawasan museum. Selain batu dan patung yang terpajang didalam ruangan terkesan seadanya tapi itu terlihat juga masih ada beberapa patung, arca dan benda sejarah lain yang dipajang diluar gedung museum. Hanya saja yang dibagian luar ini sudah kebanyakan ditutupi lumut sehingga warna batu sudah berubah menjadi kehijau-hijauan karena tidak terlindung dari hujan bahkan ada beberapa yang tidak terlihat lagi ditempat pajangannya. Ada pula sebuah pedati dan beberapa alat pertanian yang dipamerkan namun dalam kondisi yang tidak terawat. Jika saja museum ini dapat dipercantik dan ditata pada beberapa bagiannya tentu benda sejarah ini akan dapat dinikmati dengan lebih nyaman dan lebih bisa bertahan lama. Sungguh sangat disayangkan jika benda sejarah dibiarkan seperti itu. Alangkah baiknya jika benda tersebut ditata dengan rapi didalam gedung atau dibuat sedemikian rupa sehingga terlihat lebih terawat. Selain mencegah dari kerusakan karena cuaca juga menghindari dari tangan jahil pengunjung atau mungkin pencuri benda sejarah.

Goa Selomangleng, lorong menuju laut selatan

Sebuah lubang goa berwarna hitam masih berdiri tegak diantara rimbunan pohon. Goa itu basah dibeberapa bagian karena aliran mata air dan sebagian sudah dilumuri lumut tebal. Pohon tua hitam ini adalah saksi mata tentang cerita pelarian Dewi Kilisuci dari kemegahan kerajaan dan memilih untuk bertapa untuk memperoleh ketenangan batin di gua kecil ini.

Goa Selomangleng yang hitam dan berlumut

Asap pekat sangat terasa saat memasuki ruangan sempit Goa. Suasana gelap karena tidak ada penerangan hanya mengandalkan sinar matahari yang masuk dari pintu mulut goa, sehingga sulit untuk melihat kondisi didalam goa tersebut. Dengan sedikit cahaya yang masuk, bisa terlihat ukiran pada dinding goa yang memang berbentuk seperti sebuah kamar itu. Menurut penuturan seorang pegunjung ukiran tersebut adalah cerita tentang pertapaan Dewi Kilisuci, seorang putri Airlangga yang menjadi pewaris tahta kerajaan Kahuripan, namum melilih mengundurkan diri sebagai seorang pertapa. Seorang kakek tua yang menjadi kuncen atau ‘juru kunci” yang menjaga goa sempit ini tidak bisa berbahasa indonesia sehingga saya sulit untuk mengetahui cerita tentang gua ini lebih jauh. Suasana mistik sangat terasa disini, banyak orang meletakkan sesajen dan mengucapkan doa serta sengaja datang ketempat ini untuk kepentingan sesuatu seperti pengharapan akan sebuah impian dan mohon dikabulkan, dan juga dijadikan sebagai tempat bertapa. Bung Karno, Presiden Indonesia pertama konon pernah mencari ketenangan denga bertapa disini.

Dewi Kilisuci yang bernama asli Sanggramawijaya Tunggadewi adalah puri dari Raja Airlangga yang memilih untuk bertapa dan menjauhi diri dari kemegahan hidup kerajaan. Dari cerita rakyat Dewi Kilisuci adalah cikal dar penguasa laut selatan pulau Jawa. Konon goa ini menjadi jalan tembus menuju laut selatan di pulau Jawa. Tempat ini menarik untuk dikunjungi selain untuk sekedar menikmati waktu libaran juga untuk mengenal sejarah masyarakat Jawa. Dapat juga untuk belajar memahami kehidupan jaman sebelum negara ini terbentuk dimana sudah terdapat kebudayaan yang harus diketahui. Mengunjungi tempat ini juga bisa dijadikan tempat memahami tentang nilai kebijakan oleh Dewi Kilisuci untuk tidak mengutamakan kekayaan diri bermegah-megahan dalam kehidupan tapi lebih memilih untuk menyendiri dan menenangkan pikiran untuk mencari kedamaian hati.

Jawa Timur – 2

Data tulisan disarikan dari Wikipedia dan beberapa sumber lain.

Foto dari dokumentasi pribadi.

Percakapan Kopi Susu

•June 13, 2011 • Leave a Comment

Angin dari jendela terus menderu seiring laju kereta, di dalam gerbong kereta yang penuh sesak dengan penumpang dan pedagang yang lalu lalang. “Tak ada alasan untuk menolak pilihan hidup yang sudah kita jalani” Salah satu ucapan yang saya ingat dari perbincangan malam itu, sebelum saya terlelap tidur. Saya tidak bertanya berapa usianya, menurut saya sudah 40 tahun lebih seperti yang terlihat dari raut wajahnya. Saya punya dua orang putri di Jawa sana, yang paling tua kelas dua SMP, dan yang satunya kelas 6 SD. “Mereka anak yang cantik, lebih cantik dari istri saya” akunya. Pak Narto namanya, pria paruh baya dengan jaket biru dan sebuah tas yang dijadikan bantal sandaran menuju ke stasiun yang sama dengan saya, ke Bandung. Pria itu yang pertama membuka percakapan kami malam itu.

Saya memesan minuman hangat pada ibu pedagan minuman yang entah sudah berapa kali lewat disamping saya. “Kopi susu ada Bu?” Tanyaku, “Ada Mas” Jawabnya. Bukan karena rasa kantuk saya memesan kopi, tapi justru karena mata belum bisa terpejam dan sepertinya saya akan punya teman baru dikereta ini. Dari perbincangan awal muncul pertanyaan standar, sudah berkerja atau bersekolah dimana dan asal dari mana. Saya hanya menjawab dengan jujur seadanya. Saya bertanya balik dengan pertanyaan yang sama dan ternyata Pria paruh baya itu berkerja menjadi buruh di Bandung dan berasal dari Gresik, Jawa Timur. Continue reading ‘Percakapan Kopi Susu’

Newton Benar!

•May 18, 2011 • 2 Comments

Kejadian buah apel jatuh yang dilihat Newton bisa jadi sebuah titik terang bagi dunia mekanika dan fisika dunia. Jauh di pertengahan abad ke-17, Newton merangkum semua analisa dan penelitiannya tentang benda bergerak sehingga menghasilkan 3 hukum tentang benda gerak yang sangat terkenal itu. Manusia disadarkan tentang pengaruh dari gravitasi, gesekan dan bermacam efek serta penjelasan tentang gerak benda baik statis maupun dinamis. Newton berhasil membuktikan dengan teori matematisnya. Keberhasilan hukumnya itu tidak hanya bisa untuk menjelaskan setiap kejadian gerak mekanis dalam dunia fisika saja tapi juga jika kita telaah lebih jauh bisa untuk aplikasi kehidupan sehari-hari. Aplikasi dari hukum tersebut ternyata tidak hanya bisa untuk menjelaskan fenomena alam saja, namun bisa juga untuk menjelaskan hal lain diluar bisang fisika. Dan kita punya cara lain untuk menamakan hukum itu yaitu sebagai hukum alam.

Tentu kita sebagai orang Indonesia pernah mendengar pepatah “siapa yang menabur angin dia yang menuai badai” saya rasa itu sesuai dengan hukum ketiga newton. Dari segi makna, apapun yang kita berikan kita akan mendapatkan balasan yang setimpal pula.  Saat kita berbuat baik kepada orang lain maka kita akan mendapat perlakuan baik pula dari orang lain, walaupun tidak secara langsung atau oleh orang yang sama.

Saya harus percaya tentang hukum alam ini, semua yang kita berikan akan berdampak kepada kita, apapun itu. Sekecil atau sebesar apapun hasil yang kita peroleh saat ini , itu semua adalah hasil usaha yang telah kita lakukan sebelumnya. Rasanya ini cukup untuk membuat kita untuk tidak saling iri terhadap keberhasilan ataupun kesuksesan orang lain. Karena dibalik semua yang orang lain dapatkan itu merupakan hasil dari kerja keras diwaktu yang sudah dilewatinya. Takkan ada hasil yang besar dengan usaha yang kecil. Dengan bijak kita juga seharusnya melakukan sebuah kebaikan bukan untuk mendapat balasan, karena sejatinya balasan yang baik akan datang dengan cara yang tidak kita duga dan mungkin tidak secara langsung dapat kita rasakan. Yang jelas apapun yang kita berikan, itu yang akan kita peroleh kemudian.

Sering saya berpikir bahwa ada seseorang yang -rasanya- begitu mudah dalam mendapatkan sesuatu hal yang dia inginkan, sementara ada sebagian orang harus ekstra keras untuk mendapatkannya. Jangan menganggap hukum alam itu tidak berlaku, yakinkan saja kalau sebenarnya dibalik kemudahan yang diperoleh itu akan ada tanggung jawab atau usaha yang juga akan sebesar hasil yang didapat dengan mudah tersebut. Bukankah hukum ketiga itu bisa dilihat dengan analisa vektor dengan arah yang berlawanan.

Hukum Newton ini bisa juga untuk menjelaskan kepada kita untuk tidak menyesali  -secara berlebihan- apa yang telah kita dapat dan kita raih saat ini. Sebab, semua yang telah kita dapat saat ini adalah hasil dari usaha kita diwaktu kemarin. Jangan juga kita terlalu mengandalkan doa tanpa usaha dan kegiatan lain selain usaha untuk memperoleh hasil yang lebih besar. Intinya berikan saja usaha sebaik mungkin, maka kita akan mendapat hasil yang sebaik dan sebesar usaha kita. Jadikan doa sebagai Variabel lain yang bisa dianggap diabaikan tapi berpengaruh. Jangan pernah berdoa untuk hasil terbaik jika tanpa usaha apapun. Jangan pula meratapi yang sudah ada karena itu adalah yang terbaik yang bisa kita dapat.

Sedikit Hadiah Dari Kita

•April 25, 2011 • 1 Comment


Alam bukan musuh yang mengerikan
tetapi alam adalah sahabat kita
yang mendambakan kedamaian para penghuninya
lestarikan hutan demi anak cucu kita
….

Dalam suasana tanpa cahaya lampu suara Kang Dadang menggelegar di gedung student center. Walau tanpa pengeras suara, bait-bait puisi yang dilantunkan membuat hati bergetar. Puisi itu bercerita tentang  keresahan seorang anak kecil akan alam yang semakin rusak dan meresahkan. Puisi itu dibawakan pada puncak acara peringatan Hari Bumi 22 April kemarin di kampus IT Telkom. Acara ini diselenggarakan oleh anggota Astacala dalam rangka memeperingati hari bumi, di kampus IT Telkom.

Peringatan hari bumi tahun ini mengambil tema “Apa hadiah darimu untuk Bumi?” Acara ini seolah ingin menyampaikan pesan kepada kita sebagai mahasiswa/i dan manusia yang berpendidikan untuk ikut mengambil peran dalam menjadikan bumi lebih baik. Dengan sadar kita harus mengakui bahwa kita ini secara langsung atau tidak telah ikut membuat bumi semakin rapuh. Melalui momentum hari bumi ini anak-anak Astacala mengajak keluarga besar IT Telkom untuk mengambil peran pada hari bumi.  Setidaknya bukan hanya memperingati tapi memberi hadiah kecil bagi bumi ini. Continue reading ‘Sedikit Hadiah Dari Kita’

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.