Tim Sepakbola Kancing dan Lapangan Tenis

•November 6, 2009 • Leave a Comment

Banda Aceh 1996

Sepak Bola Kancing

Tim sepak bola kancing, permainan ‘ciptaan’ kami begitu hebat mempengaruhi jiwa penikmat sepakbola kami dulu. Banyak waktu kami sisihkan untuk mengurusi tim kesayangan. Seperti halnya laga sepakbola dunia, kami mengurusi dunia sepakbola kancing dengan serunya, mencari bibit pemain handal, mulai dari striker, back, hingga keeper, segala pasar dan taylor baju penjahit kami datangi untuk mencari pemain handal dan berkelas.

Permainan ini begitu berkesan, bak pengelola tim sepakbola profesional kami mengurusi permainan ini. Mulai dari mengurusi jual-beli pemain, aturan permainan, hingga hukuman dalam permainan. Masing masing orang dari kami boleh memiliki tim dan kesebelasan sendiri asal belum ada pemiliknya. Saya masih ingat saat itu saya mengelola tim Mexico untuk tingkat nasional dan Fiorentina untuk tingkat club.

Tak tanggung-tanggung, permainan ini yang semula hanya dimainkan oleh 4 orang tiba-tiba merebak menjadi 12 hingga 15 orang! bahkan ada diantaranya sudah SMA dan satu orang anak kuliahan ikutan permainan ini.

Ada FIFA-nya tersendiri untuk permainan ini, yang mengurusi masalha peraturan, wasit dan hukuman yang sesuai. Ada pula Badan yang mengurusi urusan sekelas club, tugasnya sama seperti ‘FIFA’ hanya lingkupnya lebih sempit. Kejuaraanpun kami bikin untuk adanya persaingan, mulai dari daftar pemain dan hingga transfer pemain.

Saya masih ingat saat itu tim terkaya salam dunia kancing ini adalah Inggris dan untuk tingkatan club MU dan AC Milan masih yang paling ngetop. Inggris adalah juara tak terkalahkan dalam berbagai pertandingan dan kompetisi, sedangkan MU dan AC Milan adalah tm terkaya karena memiliki pemain kerkualitas terbanyak. Bang Heri pemiliknya, Sudah lama saya tidak mendengar kabar mereka.

Sepakbola ini dimainkan diatas lantai keramik dan dimainkan satu-lawan-satu. Tiap orang memainkan satu tim tersendiri, dengan bantuan penggaris maka bola kancing didorong maju untuk menabrak bola, jika pemain berhasil mengenai bola, maka pemain diperbolehkan untuk melakukan tendangan lagi. Jika tidak maka gantian lawan yang jalan. Mungkin dapat digambarkan sekilas seperti itu, seperti permainan billyard sebenernya, bola puti itu pemain, bolanya itu yang dibidik dan sticknya adalah penggaris.

Permainan sederhana ini begitu mampu menyita waktu kami, Seingat saya, permainan ini kami mainkan saat bulan ramadhan, kalau pagi dan sorenya kami bermain bola beneran maka siang kami bermain bola kancing. Permainan ini begitu laku keras di kehidupan saya dulu, menjelang Ebtanas (UAN kalau sekarang) kami masih sibuk mengurusi permainan ini. Mungkin ada 2 tahun kami menikmati masa indah ini, setelah dinyatakan tamat dari sekolah dasar dan mulai mendaftarkan pada SMP, masing-masing kami menemui permainan dan teman baru, sejak saat itu saya mulai meninggalkan permainan ini, seiring saya pindah tempat tinggal. Permainan ini begitu berkesan, rasa-rasanya dulu kami begitu malu memainkannya kalau dihadapan orang laon, takut dibilang aneh, tapi ternyata sekarang begitu indah dikenang. Entah dari mana asal permainan ini, yang jelas saat itu kami belum mengenal Play Station (PS), Football Manager mungkin tidak lebih seru dari permainan kami ini.

Sepak Bola Lapangan Tenis

Semua cerita tentang permainan sepakbola kancing bermula dari lapangan bola sungguhan. Sepakbola dengan bola beneran. Aku masih sangat ingat tempak kami bermain bola dulu. Yang jelas pada saat itu kami belum mengenal sepakbola indoor maupun futsal! Yang kami tahu itu sepakbola, ya permainan bola yang dimainkan dilapangan rumput yang terkadang becek akibat hujan.

Kenyataan yang kami hadapi memaksa kami untuk tidak bisa bermainbola sesuai dengan bayangan kami. Kami memainkan sepakbola di lapangan tenis, dengan tiang gawan adalah sendal atau batu sebagai tandanya. Bukan karena alasan tidak tahu tempat untuk bermain bola (lapangan rumput) tapi apa daya tanah lapang tempat bermain bola sungguhan dikuasai oleh orang dewasa dan pemuda setempat. Jadilah kam anak ingusan mencari lahan baru yang bisa kami pakai semaunya. Pilihan jatuh pada lapanga tenis komplek karyawan PLN ini. Banyak hal yang mendukung dilapangan ini, pertama ada salah satu dari kami yang meupakan anak komplek ini, komplek ini dekat dengan TPA Al-Irsyad di mesjid jami’ tempat kami pengajian jadi ada alasan dan tempat melarikan diri saat bolos dari pengajian hahaha…. dan yang paling penting lapangan itu tidak dikuasai oleh pihak manapun, jadi kami bebas mau main kapan saja dengan fasilitas lengkap seperti toilet, pohon yang rimbun, dan saung yang nyaman.

Kami hanya terganggu dihari minggu saja, dalam dua minggu sekali bapak-bapak karyawan PLN bermain tenis disini, jadi giliran kami untuk bermain bola tertunda, sebagai gantinya kami dapat imbalam duit (kadang-kadang), minum dan makan snack dari hasil bantu-bantu ngambil bola tenis yang nyasar hehehe…

Juga bukan karena tidak mengerti aturan permainan sepakbola, jumlajh kesebelasan sepakbola kami lebih sering tidak sampai 11 orang untuk satu tim. Kalaupun mau digabung jumlah total pemain hanya 11 orang. secara kami tidak mempublish lapangan kami dan banyak orang tidak tertarik untuk bergabung disini, selain karena kami tidak jago bermain bola orang-orang tidak bisa adaptasi bermain dengan kami yang lapangannya adalah lantai semen lapangan tenis. Jadilah kami bermain dengan sebelah orang dibagi menjadi 2 tim, 5 lawan 5, sisanya gantian sebagai pemain cadangan hahaha….

Banyak cerita dari permainan ini, lahir banyak nama dan gelar dari permainan bola lapngan tenis ini. Mulai dari Filippo ‘Pippo’ Inzaghi, Eric Cantona, Alan Boksic, Gianfranco Zola, Gabriel Omar Batistuta, Gianluca Pagliuca, Roberto Mancini hingga Maradona dan George Weah dapat ditemui disini. Kami memberi gelar masing-masing orang berdasarkan gaya permainan dan idola mereka. Teman karibku Dayat begitu mengidolakan bintang Chelsea saat itu, Zola, Jadilah dia selalu disebut sebagai Zola lapangan tenis, dan aku tidak perlu disebut jadi siapa, yang jelas idolaku Batistuta yang tendangan luatnya sangat terkenal saat itu, dan sempat jadi top skore serie A Italy. Yang pasti sudah lama aku tidak bertemu dengan mereka. Nomor handphone yang dapat luhubungi saja tidak ada. Betapa rindunya aku dengan masa-masa itu. Bola nulit bundar ukuran no 5 hadiah ulang tahunku yang dibeli di Jakarta (sangat kubanggakan) menjadi bola bintang disana. Saat kami mulai mengenal asap rokok dan mencoba menghisapnya, bermula dari sana. Menghabiskan hari dengan bermain bola, membaca komik kesukaan kami Detektif Conan yang saat itu masih bernomor belasan, serta komik Kung Fu Boy kesukaan kami yang kami sewa Rp.250/hari dari penyewaan komik Abdya Peunayong yang jaraknya sangat jauh kalau kami harus kesana dengan bersepeda. Aku rindu masa-masa itu, masa yang terasa masih sangat ringan hidup ini, beban masih sedikit sesedikit dosa barangkali. Setelah lebih dari sepuluh tahun yang lalu, kini aku mulai bisa bertemu dengan beberapa teman lamaku dulu, apalagi kalu bukan karena jejaring sosial yang sangat terkenal itu. Terima kasih Facebook. Semoga beberapa waktu kedepan aku bisa bertemu langsung dan mengenang bersama kembali masa sepakbola kancing dan sepakbola lapangan tenis itu.

One Step Closer

•October 30, 2009 • Leave a Comment

Keluar mulut harimau, masuk mulut buaya!

Like This!

•September 16, 2009 • 3 Comments

kawanku punya teman
temannya punya kawan
mahasiswa terakhir fakultas dodol

lagaknya bak profesor
pemikir jempolan
sepintas seperti sibuk mencari bahan skripsi

kacamata tebal maklum kutu buku
ngoceh paling jago banyak baca kopingho

bercerita temanku tentang kawan temannya
nyatanya skripsi dibeli oh disana
buat apa susah-susah bikin skripsi sendiri
sebab ijazah bagai lampu kristal yang mewah
ada diruang tamu hiasan lambang gengsi
tinggal membeli tenang sajalah

saat wisuda datang dia tersenyum tenang
tak nampak dosa di pundaknya
sarjana begini banyakkah di negeri ini
tiada bedanya dengan roti

menangis orang tuanya
lihat anaknya bangga
lahirlah sudah si jantung bangsa aku hanya terdiam
sambil kencing diam-diam
dengar kisah temanku punya kawan

Lirik oleh Iwan Fals
“Kisah temanku punya kawan”

***
Menggelitik…

Sambil Nunggu Bedug

•September 10, 2009 • Leave a Comment

Sambil nunggu bedug untuk berbuka atau ngabuburit memang merupakan kegiatan yang menyenangkan dan mengasikkan, Kita bisa melakukan banyak kegiatan hingga bedug berbunyi. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan, asalkan positif kegiatan ini bisa jadi ibadah barangkali hehe..

Anggota muda astacala mempunyai cara tersendiri untuk mengisi ngabuburit, ada yang mengisi dengan berolahraga seperti melakukan panjat dinding, jogging dikampus ada pula yang mengisi dengan tidur setelah seharian disibukkan dengan hal perkuliahan.

Antara Supari, Vidya dan Pohon Mangga

Antara Supari, Vidya dan Pohon Mangga

Ramadhan kali ini sedikit berbeda dengan ramdhan yang sudah-sudah, ramadhan ini angkatan Lembah Purnama melakukan penanaman pohon dalam rangka masa bimbingan anggota muda. Continue reading ‘Sambil Nunggu Bedug’

Kita Bilang ini ‘Sumpah Palapa’

•September 8, 2009 • Leave a Comment

Ini adalah dokumentasi masa-masa sumpah palapa. Sumpah Palapa itu sebutan tentang sebuah janji yang kuat yang ga akan diingkari kalau tujuan belum tercapai. Sumpah Palapa ini terinspirasi dari Patih Gajah Mada Sang pencetusnya. Kalau Patih Gadjah Mada kuat dengan sumpah palapanynya maka kitapun kuat dengan sumpah palapa kita sendiri hehehe…

Dewa Mobile Comm

Dewa Mobile Comm

Sumpah palapa ini kita jalani pada masa liburan, pada saat ya bisa dibilang paling menentukan buat masa depan kita hehehe… Kerjaan kalau ga belajar (belajar YMan, Facebookan, Ngaskus) ya ngopi tengah malam, gitar-gitaran (nyanyinya ga jelas) atau ngemi.

Kalau lagi belajar

Kalau lagi belajar

Ini tentang janji kita-kita untuk mengerjakan TA, ya 2 huruf yang susah bener terkadang buat diselesaikan. Kita emang bukian orang yang cukup pinter buat nyelesaiin tugas ini, makanya kita membentuk tim sukses buat barengan menyelesaikan tugas ini. Secara kalo sendiri ga akan sukses hehehe… Continue reading ‘Kita Bilang ini ‘Sumpah Palapa’’