Jogja Kembali


Sudah lama rasanya saya tidak berkegiatan diluar rutinitas. Sejak bergaul dengan ‘dunia kerja’ saya hampir kehilangan masa-masa kebebasan saat menjabat sebagai mahasiswa dulu. Long weekend kemarinlah satu-satunya waktu yang bisa saya manfaatkan untuk bisa membayar hasrat jalan-jalan yang mengendap. Melalui SMS saya diberi kabar oleh teman main di Astacala, bahwa mereka ada kegiatan minggu ini. Caving ke Goa Jomblang. Sesuatu yang belum pernah saya jajaki sebelumnya adalah caving. Penelusuran goa adalah materi yang sedang giat-giatnya dipelajari oleh teman saya di Astacala.

Home sweet dome

Dari informasi yang saya dapat, ada Vidya, Kiting, Eka, dan Sondang yang akan berangkat. Semuanya cewek (bukan cewek biasa) menurut saya. Ikut juga Marmut dan Pinan juga. Mereka akan melakukan simulasi penelusuran goa dan simulasi cave rescue di Goa Jomblang. Saya tidak punya rencana lain untuk mengisi liburan, belum tahu mau jalan-jalan kemana. Sudah lama saya tidak mampir ke Jogja, kota kenangan. Seru rasanya kalau bisa main ke Jogja. Gayung bersambut! Saya diijinkan untuk ikut cewek-cewek perkasa itu ke Goa Jomblang. Goa Jomblang berlokasi di Kabupaten Gunung Kidul, daerah sekitaran Wonosari. Tidak begitu jauhlah dari Jogja. Saya berminat kesana, walaupun saya tidak terlalu ikut andil dalam pelaksanaan latihan simulasi tersebut.

Penelusuran goa yang kami lakukan memang membutuhkan ilmu dan keahlian tersendiri, dan itu yang belum saya miliki. Peraturan bagi yang belum belajar dilarang melakukan hal yang berbahaya (caving) itulah yang membuat saya tidak bisa ikut dalam penelusuran tersebut. Untuk menjadi tim base camp dan tim support saya rasa saya siap. Dan berangkatlah saya dengan keempat cewek (bukan cewek biasa)🙂

Perjalanan macet dari Jakarta, langsung disambut dengan persiapan saya menuju ke stasiun menuju Jogja. Cewek (bukan cewek biasa) sudah siap dan kita meluncur ke Kiara Condong, menunggu kereta impian Kahuripan. Kereta ini masih sama dengan beberapa tahun yang lalu terakhir saya tumpangi. Bau besi bercampur keringat, hiruk pikuk pedagang air minum, jajanan dan bau pesing toilet yang merebak masih jelas dan tidak banyak berubah. Jangkar emosi saya banayk di gerbong kereta ini, kereta penuh memorilah kira-kira. Jujur saja saya rindu suasana kereta ini, rasanya bergaul dengan banyak orang yang terkucilkan, orang-orang sakti yang bisa bertahan dalam kerasnya hidup tanpa sokongan ekonomi yang mantap. Andai saja, para orang yang lebih beruntung si kota besar bisa sedikit berbagi mungkin cerita akan berbeda.

Kiting, Vidya, Sondang & Eka cewek (bukan cewek biasa)

Pagi hari kami tiba di Lempuyangan, stasiun ini lebih cantik setelah beberapa pemugaran dibeberapa titik. Kami menuju ke Wonosari dengan bis kecil. Perjalana menuju goa Jomblang benar-benar menggambarkan ciri khas gunung kidul, daerah dengan jajaran pohon jati san batuan karst. Angin meniup pelan saat kami tiba di base camp Goa Jomblang. Suasana terik tapi teduh mambawa kami ke titik camp yang berdekatan dengan mulut goa Jomblang. Daerah ini memang sudah menjadi daera

h ekowisata, buktinya daerah goa Jomblang ini sudah dipugar menarik dan siap dijadikan objek wisata. Sudah ada pengelola untuk hal ini, beberapa cottage kecil pun sudah dibangun dengan pemandangan khas gunung kidul terbentang didepan mata.

Kiting and Eka ready to show!

Lihatlah mereka ber’kerja’

Salut saya, melihat persiapan latihan yang dilakuan keempat cewek (bukan cewek biasa). Banyak carabiner, webbing, tali kermantel dengan bermacam simpul bergelantungan dan semua telah terpasang rapi di badan sesuai standar penelusuran goa. Siang itu mereka melakukan latihan Rigging hingga malam menjelang. Setelah makan malam dan briefing mereka memutuskan untuk melanjutkannya esok hari. Lelah sudah pasti setelah 12 jam perjalanan dan hampir 4 jam bergelantungan dibayar dengan tidur malam. Malam itu gunung kidul tidak dingin, namun suasananya saya suka. Sunyi, suara jangkrik menemani pikiran saya yang melayang tidak jelas hinga tak kuasa melawan kantuk.

Pagi harinya saya memutuskan untuk turun ke kota dan berencana melanjutkan perjalanan menuju Solo. Astaka telah siap menunggu dirumahnya dan saya menginap disana dan ingin bernostalgia di kota Solo. Makan nasi rames, dan melihat festival jawa adalah hal yang jarang saya lakukan kalau sedang di Jakarta tentunya hahaha….

Latihan simulasi rescue

Selepas dari Solo akhirnya saya mampir juga di kota kenangan, Jogja. Kota ini memang layak untuk dikunjungi berulang-ulang. Banyak kenangan yang terukir di kota sejuta mahasiswa ini. Saya suka suasana jawa disini, ramah dan tidak kasar. Tapi kok sepertinya sudah sedikit berkurangm tidak seindah dulu. Mungkin sudah banyak orang kota yang berdiam disini, orang Jawa aslinya sudah menepi ke tempat lain. Jogja tidak serapi dulu, tapi paling tidak jauh lebih nyaman dibandingkan Jakarta. Malioboro masih menjadi pilihan untuk disambangi, meski setiap saya kesini tidak pernah membeli apa-apa. Hanya mampir dan numpang lewat saja. Sekedar melepas rindu dan melihat keramaian pasar yang menjajakan barang khas Jawa dan kreasi seni., walaupun banyak pedagang yang bukan lagi wong jowo, orang minang sudah banyak juga disini. Akulturasi budaya.

Malioboro at night

Selepas Jogja kereta ekonomi siap menjemput kami di stasiun yang sama saat kami datang di jogja. Tak butuh duit banyak untuk bisa main ke kota ini dengan kereta ekonomi. Jogja masih seperti dulu, suasananya yang saya rindukan. Banyak mahasiswa, orang Jawa yang sangat Jawa. Sekumpulnya dengan cewek (bukan cewek biasa) saya kembali ke Bandung, niatnya saya kembali lagi ke Jakarta untuk melakukan rutinitas. Perjalanan kali ini sangat berbeda dengan yang terakhir saya mampir ke Jogja. Saya engikuti kegiatan dengan cewek (bukan cewek biasa) yang latihan penelusuran goa, sementara saya hanya menjadi tim base camp yang menjaga barang dan membuat minuman hangat di tenda. “Jadi seperti ini toh rasanya jadi tim base camp..” dan saya senang melihat cewek (bukan cewek biasa) itu latihan dan bisa saya mengaduk gula dalam air teh hangat di depan tenda. Saya sudah punya rutinitas baru, yang harus dijalani dan semoga saja bisa mengatur waktu untuk bisa tetap jalan-jalan dan menikmati hidup.

Terima kasih kepada Teman-teman dari TCC Tasikmalaya, Hikespi dan Mapagama UGM atas pelayanannya🙂

Selepas dari Solo akhirnya saya mampir juga di kota kenangan, Jogja. Kota ini memang layak untuk dikunjungi berulang-ulang. Banyak kenangan yang terukir di kota sejuta mahasiswa ini. Saya suka suasana jawa disini, ramah dan tidak kasar. Tapi kok sepertinya sudah sedikit berkurangm tidak seindah dulu. Mungkin sudah banyak orang kota yang berdiam disini, orang Jawa aslinya sudah menepi ke tempat lain. Jogja tidak serapi dulu, tapi paling tidak jauh lebih nyaman dibandingkan Jakarta. Malioboro masih menjadi pilihan untuk disambangi, meski setiap saya kesini tidak pernah membeli apa-apa. Hanya mampir dan numpang lewat saja. Sekedar melepas rindu dan melihat keramaian pasar yang menjajakan barang khas Jawa dan kreasi seni., walaupun banyak pedagang yang bukan lagi wong jowo, orang minang sudah banyak juga disini. Akulturasi budaya.

About isackfarady

drink water
This entry was posted in Journey. Bookmark the permalink.

6 Responses to Jogja Kembali

  1. viozz says:

    mantap tong…jd tambah kangen ma jogja

  2. petong says:

    viozzz… iya, lo juga terkenal lho disana…

  3. 59 says:

    Itu yg di Solo namanya Nasi Liwet, tong…

  4. petong says:

    oke thanks say…

  5. morishige says:

    mungkin karena malas, saya kurang menyenangi tali-temali, bro.😀
    lebih enak manggul ransel dan nanjak daripada bergelantungan di goa vertikal.:mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s