Rimung


Saya teringat akan kejadian masa kecil dulu, dirumah salah satu keluarga saat hari menjelang malam. Desa Sawang Teubei sekitar tahun 1990-an belum seramai sekarang, jalan negara belum diaspal, listrik masih dari mesin Diesel untuk satu desa. Saya sering mandi di Krueng Kaway saat sore hari, airnya bening kecuali dimusim penghujan menjadi kecoklatan. Saat hari mulai gelap saya selalu diingatkan untuk tidak keluar kebelakang rumah terlalu jauh, katanya malam adalah jam kerja harimau dan babi hutan. Saya begitu sering mendengar cerita tentang seram dan menakutkannya harimau, saat itu saya percaya bahwa harimau itu memang ada di hutan rimba sana, tak jauh dari desa ini.

Entah itu benar atau tidak saya sering bertanya bagaimana rupa harimau yang dilihat oleh kakek saya itu. Kami bangsa Aceh menyebutnya Rimung. Rimung itu Kuning belang, besar, becorak, persis kucing dalam versi yang lebih besar. Warga kampung begitu tergila-gila oleh satwa yang satu ini. Saya banyak mendengar cerita tentang kehebatan mistis dan hal yang menyebabkan Rimung begitu diburu. Jadilah Pawang Rimung menjadi profesi paling terkenal saat itu. Saya kembali kagum dengan cerita kehebatan binatang yang satu ini. Dan saya patuh untuk tidak main ke belakang rumah terlalu jauh masuh ke semak hutan, saya takut diterkam.

Sekarang setelah beberapa lama, lebaran kemarin saya sempat mampir dan melihat suasana disana. Desa itu sudah jauh berubah. Tidak ada lagi sumber untuk bertanya tentang kehebatan rimung. Kakekpun sudah berpulang dan cerita itu tidak lagi menarik, saya juga yakin orang tidak lagi tertarik dengan hal itu. Suasana sekarang sudah jauh berbeda, kalau dulu saat maghrib saya masih bisa mendengar tetangga melantunkan ayat Al-Qur’an sekarang suara sinetron terasa lebih akrab ditelinga.

Saya hanya teringat akan cerita masa kecil tentang bagaiman orang tua kami ‘menakut-nakuti’ anak-anaknya untuk tidak main terlalu jauh karena ada rimung. Apa itu benar ada? atau hanya sekedar menakut-nakuti kami agar tidak main terlalu jauh saja. Sore itu setelah suasana hari raya tak ada kakek tua yang bisa saya tanya lagi , hanya ada orang tua kami saja. Saya tidak terlalu yakin dengan jawaban mereka tapi saya menangkap benar bahwa memang saat kami kecil dulu rimung itu ada. Dia itu harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), benar mengaum dan memangsa hewan lain tapi jauh dihutan rimba sana. Hutan yang dimaksud itu menurut saya ada di hutan dibagian tengah provinsi ini. Saya sempat senang karena merasa tidak sepenuhnya dibohongi saat kecil dulu.

Rasanya tidak terlalu lama berselang dari saya kecil hingga sekarang, suasana hutan itu sudah tidak semengerikan dulu. Kalau dulu saya takut untuk kesana karena alasan keamanan dan juga ketakutan akan suasana hutan yang berlebihan. Takut jika ada pasukan bersenjata dan terjadi kontak senjata dan yang paling lucu adalah takut diterkam harimau. Kalau sekarang saya bisa lebih bebas kesana selain jalan negara sudah diaspal juga karena disana sudah tidak banyak lagi hutan rimba yang ‘menakutkan’ itu. Kalau dulu disana siang kami merasa teduh karena banyak hutan dan semak, kalau sekarang sudah terang dan banyak cahaya matahari serta sudah banyak pohon berjejer rapi.

Tahun-tahun itu sepertinya masa sulit, jalanan belum diaspal, listrik belum ada, sepanjang perjalanan dicekam rasa takut terjadi kontak senjata. Sekarang sudah enak. Jalanan rapi, tidak ada lagi hutan dan semak, beberapa berganti dengan deretan sawit dan pohon Karet yang berbaris rapi. Pohon Karet dan sawit yang ditata rapi, membuat rimba gelap kini menjadi terang. Saya tidak perlu gelap-gelapan setelah maghrib, listrik sudah masuk, mendengar musik dan menonton televisi bukan menjadi acara malam mingguan tapi setiap saat.

Saya sudah lupa tentang cerita tentang rimung yang sempat saya kagumi itu. Samapi belakangan rimung kembali meunjukkan belangnya. Kini persis sepertinya cerita orang tua ‘menakut-nakuti’ saya kecil dulu, terbukti. Jauh memang dari kampung kami, tapi cerita itu menghebohkan. Ada beberapa orang di Aceh bagian selatan terluka diterkam harimau. Saya kaget, teringat cerita dulu. Pastilah dia setelah malam gelap keluar rumah jauh, masuk kehutan dan diterkam rimung. Ternyata salah! Cerita berbalik. Rimung tidak suka lagi menunggu malam hari, dia sekarang menyambangi kampung dan sempat menerkam warga disana. Menyeramkan. Akhir-akhir ini cerita itu terus ada dipikiran saya. Saya sempat lupa tentang itu. Harimau masih ada walau jumlahnya semakin memprihantinkan, bukan cuma seperti yang saya lihat di Ragunan atau di Bonbin Bandung. Dia turun gunung.

Koran bilang, dia turun karena semakin terusik oleh keberadaan manusia. Manusia makin mempersempit pergerakannya. Ternyata bukan rimung yang masuk ke perkampungan tapi perkampungan manusialah yang masuk ke perkampungan rimung tersebut. Aku tidak tahu pasti bagaimana itu. Yang jelas aku sangat percaya bahwa rimung hanya ada 2 alasan untuk memangsa. Alasan pertama karena itu memang mangsanya dan yang kedua itu segala yang mengaggunya. Saya rasa manusia ada dipilihan kedua.

Saya memang tidak pernah bertemu langsung dengan binatang yang sempat saya kagumi dulu itu. Terkesan sangar, garang dan sepertinya sangat kuat dan menjadi raja rimba. Terlambat saya sadar bahwa saya tidak perlu terlalu takut untuk diterkam kecuali saya memilih menjadi alasan kedua tadi. Harusnya Rimunglah yang harus takut diterkam oleh kami manusia. Kami memang tidak punya cakar tajam dan auman sesangar itu tapi kami punya uang dan kami butuh uang untuk mempersempit keberadaanmu. Mohon maaf saja kalau area bermaimu kami rambah sedikit demi sedikit, alasan klise tapi pasti, Ekonomi.

Ah, entahlah sepertinya semua memang ada masanya. Saya sempat bangga karena kau menjadi sesuatu yang dibanggakan bahkan dianggap keramat. Dan mungkin ini jadi masa penghujungmu, Aneh jika sekarang ada sebagian dari kami sedih melihat populasimu semakin menipis. Mungkin salahmu juga karena butuh wilayah jajahan terlalu luas sementara kami butuh lahan untuk dibalak. Salahmu juga sepertinya karena punya kulit kuning loreng itu sehingga kami bisa menjual mahal corak itu. Saya rasa kebun binatang bukan tempat yang baik bagimu. Kalau sudah begini saya setuju dengan caramu. Sesekali pakailah alasan kedua untuk memangsa. Saya sedikit bangga akan itu, kamu bisa menunjukkan taringmu yang sebenarnya. [ptg]

About isackfarady

drink water
This entry was posted in Opinion. Bookmark the permalink.

3 Responses to Rimung

  1. Ratri says:

    akhirnya si abang ngblog..Tere Liye juga ada cerita gini di novel Bidadari-Bidadari Surga ..ternyata emang ada ya si harimau..đŸ™‚

  2. isackfarady says:

    Wah baru tau tuh Neng…
    Ini cuma asal keluar aja. Keingat gara-gara baca koran pas abis lebaran kemarin :p Bolehlah kalau gw pinjem tuh novelnya hehehe…
    Terima kasih udah kasih comment.

  3. berak says:

    keren bang…
    sekarang kerjaan nya ngeblog ya…?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s