Teungku Krueng Meureubo


Saya menyapa Pak tua yang berkopiah itu dengan sapaan Teungku. Entah Teungku apa, seperti kebanyakan pemuda memanggilnya. Saya sebut saja Teungku Krueng Meureubo, dan itu bukan namanya. Diantara pekat asap tembakau yang dikeluarkan dari mulutnya, terlihat garis kerutan di wajahnya memperlihatkan betapa kerasnya kehidupan yang sudah dijalani pria usia senja itu. Dia tidak tahu pasti umurnya, dia tidak tahu pasti tahun dia dilahirkan. Orang mempercayainya sudah berumur 50 tahun lebih, namun perkiraan saya lebih tua dari itu. Paling tidak sekarang ia punya cucu dan dari beberapa anaknya orang bisa memperkirakan umur pak tua ini.

Angin dingin yang berhembus dari kaki gunung itu terasa sejuk. Tatapannya lurus kedepan, ke arah jembatan besi yang sepi, sesekali ia melihat ke tanah basah dikakinya. Dia bertanya padaku “Apa pekerjaanmu di Jakarta sana? Apakah Kamu sering ke gedung tinggi yang sering di tv itu?” Pertanyaannya datar penuh rasa ingin tahu. Saya rasa bukan karena dia ingin tahu keadaan saya alasan dia bertanya, tapi dia ingin tahu bagaimana kota Jakarta. Kota itu pernah menjadi kota impian dan idamannya. Namun sampai sekarang dia tidak pernah melihatnya. “Saya tidak berkerja di gedung tinggi dan saya tidak suka tinggal di Jakarta, Teungku” Saya menjawab. “Jakarta sudah terlalu padat dan panas” Saya menjawab sambil melempar kerikil dikaki ke arah air sungai yang mengalir. Saya rasa tidak terlalu tertarik untuk menceritakan kehidupan di Jakarta, saya lebih tertarik untuk mendengar cerita kehidupan disini saja, di Pesisir Krueng Meureubo.

Di usia senjanya dia sudah membuang jauh mimpi untuk bisa mencari pundi rupiah disana yang pernah sempat mampir dipikirannya. Umurnya 25 tahun saat itu, berdasarkan yang tertulis di KTP. Dia sempat berencana berangkat ke tanah Jawa, ke Jakarta. Ada tawaran pekerjaan disana, lebih baik dari menjaring ikat dengan pukat di sungai keruh ini. Informasi dari temannya saat itu Jakarta akan membutuhkan banyak kuli batu untuk membangun jalan raya. Namun, harapannya harus ditunda karena kondisi tidak memungkinkan. Dia malah berbalik arah masuk hutan untuk mengangkat senjata. “Saya mau berperang saja” katanya dengan bangga. Lebih dari sepuluh tahun dia setia keluar masuk hutan dan sesekali beroperasi di jalan untuk berjuang. Dipikirannya saat itu hanya ini pilihan terbaik untuk bekerja, bukan semata-mata karena uang yang diterima. Tapi semua sudah berlalu, sebuah rakit dari bambu dan jala serta alat pancing sederhana setia menemani sisa umurnya.

“Apa benar di Jakarta sungai sudah tidak ada ikannya?” Teungku bertanya kepada saya. “Benarkah disana sungainya penuh sampah?” lanjutnya. Saya sempat terdiam “Aku kira begitu, disana sungai tidak lagi bening, semua berwarna pekat, ikan tidak ada yang bisa hidup kecuali ikan monster” Saya menjawab sambil tersenyum. Dia menerima jawaban saya, sambil terus menarik dalam-dalam rokok lintingannya itu. Baunya tidak seperti tembakau biasa, tidak seperti bau asap Dji Sam Su yang biasa saya cium. Baunya tidak harum tapi pahit. Entah tembakau apa itu, bisa jadi itu Ganja. Entahlah, tidak menarik untuk dibahas. Yang jelas dia sangat ingin melihat gedung tinggi di Jakarta,  bagaimana rasanya naik keatas gedung pencakar langit itu. Apakah orang tidak takut jatuh atau takut bangunan itu akan roboh. Pastilah sangat hebat orang yang bisa bekerja didalamnya. Aku menanggapi dengan senyuman saja. Diumur dan keadaannya seperti ini dia memang tidak lagi bisa berharap bisa melihat gedung-gedung tinggi itu, sudah tidak mampu. Menjadi nelayan dengan jala sudah menjadi harapan hari esoknya.

Sore itu dia pulang lebih cepat karena dia besok tidak akan mencari ikan. Besok akan ada perkerjaan dadakan dan musiman. Mengangkut karet. Ada perusahaan yang membutuhkan tenaga angkut hasil tadahan getah karet untuk diangkut ke mobil dan dibawa ke pabrik pengolahan di Medan sana. Upah bayaran karet memang lebih menjanjikan dibandingkan dengan hasil penjualan ikannya. Disana cuma butuh tenaga saja kita sudah dapat uang, tidak perlu ke pasar membawa hasil tangkapan. Dia suka pekerjaan yang satu ini. Ini sebuah ironi, Teungku ini lahir dan sempat berjuang disini, namun dia harus ‘mengemis’ pada orang kota untuk mendapat uang yang lebih layak ditanahnya sendiri. Ketika saya tanya apakah dia punya kebun karet atau kelapa sawit disini, dia bilang tidak punya. “Tanah dihutan tuhan itu bukan milik kita lagi, sudah di beli orang perusahaan untuk dijadikan kebun” Teungku ini menjawab seadanya. Cerita seperti ini seperti yang sering saya dengar, orang pribumi malah menjadi kuli ditanahnya sendiri. Tanah mereka dibeli dan dikelola oleh orang luar dan penduduk asli menjadi pekerjanya. Sisi positifnya terdengar seperti pemberdayaan masyarakat asli walau menurut saya tidak begitu. Kita tidak bisa menolak perubahan jaman, pembangunan dan modernisasi pasti membawa dampak ke sisi yang lain. Dan yang terkena imbasnya adalah pihak yang lemah. Saya jadi ragu memilih mana pilihan yang bijak untuk keduanya.

Saya bertanya tentang hasil tangkapan ikan yang dia dapat hari-hari biasanya. “Tidak tentu, semakin susah menangkap ikan sekarang, ikannya semakin sedikit dan semakin kecil” jawabnya cepat. Air sungai sekarang jarang sekali bening seperti dulu, kalau sudah hujan sedikit saja di glee (Baca:hutan) pasti airnya menjadi keruh dan berwarna coklat. Ikan sudah pasti tidak disana, lari entah kemana. Air pun sekarang menjadi semakin berarus. Dulu arusnya tenang, sekarang semakin deras tak menentu. Sungaipun sekarang menjadi semakin lebar ke sisi tanah yang tinggi disekitarnya. Sungai menjadi dangkal dibeberapa titik dan itu diperparah dengan longsornya tanah ke dalam sungai. Tumpukan tanah dan melebarnya sungai membuat air menjadi dangkal dan sudah pasti disana tidak ada ikannya. Belum lagi dengan adanya truk yang mengambil pasir dalam jumlah yang terkontrol. Saya tidak tahu pasti tentang legalitas pengambilan pasir ini. Setahu saya disini orang membangun rumah tidak perlu membeli pasir cukup mengambilnya dari sungai saja. Itu tidak akan menjadi masalah kalau dalam skala kecil, namun sepertinya sekarang sudah sangat banyak truk yang turun ke sungai untuk mengerus pasir dan kerikil dalam skala besar. Pengerusan itu sepertinya sudah menjadi usaha berkelanjutan. Saya tidak tahu pasti apa itu sudah sesuai dengan kajian dan dampak lingkungannya saya tidak paham.

Sungai ini dulu sempat mengalami masa jayanya, banyak hasil ikannya terkenal. Namun kini menurutnya sudah sangat susah mengandalkan hidup dari sungai ini. Banyak orang sekarang lebih memilih pergi menarik becak dan menjadi kuli angkut beras di pasar dari pada menjadi nelayan di sungai. Lautpun masih sangat luas kalau ingin ber-nelayan. Kalau dulu masih bisa menjadi nelayan rakit penyebrangan sudah tergantikan oleh banyak pembangunan jembatan. Tinggallah Teungku ini dan beberapa temannya yang masih setia mencari peruntungan disini, karena sudah terlalu tua untuk berpaling atau memang tidak ada pilihan lain. Saya tidak terlalu paham.

….
Masa Peralihan

Di hutan sudah banyak pabrik dan warga yang membuka lahan untuk berkebun, pembukaan lahan perkebunan karet, kelapa sawit dan areal persawahan warga. Hutan menjadi berkurang, daya serap air juga berkurang. Saat hujan turun air tidak meresap ke tanah melainkan mencari daerah aliran baru. Sungai salah satu daerah lekukan dataran bawah, jadilah sungai ini menjadi satu-satunya aliran air hujan dari hutan. Tanah hutan yang tergerus karena kurangnya pohon yang menyaring membawa tanah gerusan air menuju sungai. Bulir pasir yang dibawa menjadikan sungai berwarna kecoklatan dan debit air yang besar menjadikan sungai berarus. Saya jadi berpikir, apakah ini yang disebut awal mula penyebab dari banjir bandang? semoga bukan. Efek yang sudah dirasakan dari kejadian disini menurut Teungku Krueng Meurebo ini adalah ikan akan sulit ditemui. Ikan mulai sulit berkembang biak di sungai seperti ini, banyak makanan yang terbawa arus air keruh. Hanya ikan payau yang bertahan.

Teungku ini sangat tergantung pada rokok lintingannya itu. Asap rokok seperti napas baginya, giginya sudah menghitam karena selain merokok dia juga gemar mengunyah sirih. Menyirih memang sudah menjadi kebiasaan orang tua Aceh pada umumnya. Sesekali meludah dan melanjutkan cerita tentang kehebatan masa mudanya dulu. Menyandang AK-47, ber-kopiah (Baca:peci) dan bergerilya. Keluar masuk hutan sambil ‘menenteng’ Kalashnikov adalah hal yang membanggakan. Semua kenangan itu membuat saya kagum dengan orang tua satu ini. Dia punya banyak cerita dan jalan hidup yang menarik. Semuanya sudah lewat dan berlalu begitu saja. Dia hanya bisa bercerita dan mengenang saja. Tak ada dokumentasi fisik berupa foto, tulisan atau apapun. Begitu banyak cerita yang tersimpan, bahkan diantara temannya yang dia sebut panglima itu punya cerita lebih seru, namun telah lebih dulu menghadap tuhan. Saya rasa orang-orang seperti inilah yang merasakan perubahan dan pergelokan daerah. Mungkin saya hanya akan menjadi pengamat saja, saat keadaan menjadi aman, saat sudah banyak perkebunan dihutan, saat sungai yang tidak ada ikannya.

Saya yakin lintingan rokok yang dia bakar kali ini bukan yang terakhir untuk hari ini. Dia ingin pulang kerumah, istrinya sudah menunggu dan adzan sudah hampir berkumandang. Setelah yakin rakit sudah ditambat dengan aman, mencelupkan jala untuk membersihkannya dan merapikan semua peralatan pancing. Dia bergegas dan segera beranjak. Ini adalah hari seperti biasa yang dilalui kakek tua. Dia sudah terlalu tua namun masih sangat kuat dalam hal yang satu ini. Sementara dia berlalu saya masih duduk di pinggir sungai sendirian sambil sesekali melempar kerikil ke sungai. Membayangkan betapa banyak yang sudah terjadi disini. Sungai ini sudah menjadi saksi bisu sejarah. Bagaimana kisah Teuku Umar dan pasukannya yang melintas melarikan diri dari kejaran Belanda, saat terjadi pergolakan gerakan kemerdekaan Aceh, bagaimana teknologi telekomunikasi masuk kesini, hingga perubahan hutan dan lingkungan yang sedang terjadi. Sungai ini menjadi saksi. Sungai ini tetap mengalir dan seperti tidak kelelahan menjalani cerita diatasnya.

Meulaboh, 2008

About isackfarady

drink water
This entry was posted in Journey, Opinion. Bookmark the permalink.

One Response to Teungku Krueng Meureubo

  1. Gejor says:

    Cerita orang asli Aceh. Menarik Tong. Makin mantap aja nih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s