Cerita dari Tretes


Dinginnya pagi masih menusuk dengan kabut tipis, hari itu hari minggu. Semua sudah dengan gaya masing-masing. Sepeda sewaan sudah dipersiapkan dari semalam, dan kami siap berangkat. Seminggu sebelumnya salah satu dari kami bercerita tentang sebuah air terjun yang masih alami jarang didatangi penduduk dan bukan tempat wisata. Dari cerita itu mucul ketertarikan untuk main kesana, selain karena tempat itu bukan tempat wisata pada umumnya tapi juga karena kami tidak punya destinasi alternatif lainnya. Setelah sepakat dengan jalur dan akses kesana, akhirnya rencana itu terwujud seminggu kemudian.

Minggu itu semua sudah siap dengan sepeda masing-masing, dengan kondisi seadanya dan sepeda kami kayuh. Melewati pelataran alun-alun Pare kemudian berlanjut ke jalan beraspal lintas Kediri – Malang. Kami memilih jalan yang relatif lebih sepi walaupun lebih banyak tikungan untuk menghindari lalu lintas padat dijalan raya. Jalur ini lebih menyenangkan dibanding jalan raya, dengan pemandangan sawah dan pegunungan diujung mata juga karena hawa dingin dan segarnya udara pedesaan membuat jalan yang menanjak naik menjagi tak terasa. Sawah yang masih hijau dan air sungai kecil yang mengalir sungguh merupakan perpaduan yang sedap dipandang. Sesekali dari kami bernyanyi kecil untuk mengusir kelelahan dan pegal di bagian persendian yang sudah mulai terasa.

Istirahat dan mengambil nafas

Tujuan kami adaalah air terjun Tretes. Air terjun ini secara geografis terletak di desa Galengdowo kec. Wonosalam, kabupaten Jombang. terletak di kaki gunung Anjasmoro dan termasuk kedalam kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) R. Soerja. Melalui kecamatan Kandangan di Kabupaten Kediri adalah jalur terdekat kami menuju kesana. Hampir dua jam mengayuh sepeda tak terasa hingga kami tiba di pasar Kandangan. Sesuai dengan rencana kami akan sarapan disini. Pasar Kandangan sudah mulai ramai dengan aktifitas pasar dihari minggu pada umumnya. Kami mencari warung makan yang sesuai selera dan kantong kami. Rawon dan pecel Madiun adalah pilihan terbanyak dan itu jadi sarapan yang lezat, energinya cukup untuk menambah tenaga kami. Jalan yang menanjak akan menanti dijalan berikutnya. Setelah sarapan beberapa dari kami mulai mengecek kondisi sepeda masing-masing, permasalah tiap sepeda mulai terlihat. Inilah akibat dari mengandalkan sepeda sewaan murah, sepeda yang bergenyit dengan bunyi yang mengusik telinga, rantai yang sudah mulai bergeser, rem yang sudah mulai bermasalah dan lain lagi dengan ban yang sudah mulai gembos. Diantara penyakit sepeda sewaan itulah perjalanan semakin menyenangkan sekaligus menantang. Setelah memastikan tidak ada yang terlalu parah perjalanan dilanjutkan.

Desa Galengdowo adalah desa terakhir sebelum masuk ke hutan, disini banyak petani dan peternak sapi perah lengkap dengan tandu susu segarnya. Kami disajikan pemandangan alam sebuah desa . Cerita teman yang asli Kediri, susu segar disini benar-benar gurih. Ini adalah salah satu tempat penghasil susu sapi segar di Jawa Timur. Walaupun tidak sebesar Pangalengan di Jawa Barat, setidaknya suasana pedesaan seperti ini membuat mata saya segar.  Kami membeli perbekalan dan beberapa jajanan untuk dimakan selama perjalanan dan setibanya di air terjun. Setelah meninipkan sepeda dirumah warga dan sedikit relaksasi kaki kami bersiap untuk perjalanan selanjutnya. Waktu menunjukkan pukul 10.00, tak terasa sudah hampir 5 jam waktu kami habiskan dari terakhir saya perhatikan ketika masih baru berangkat.

Kami harus bergerak cepat karena butuh waktu 2 jam untuk menuju ke air terjun tersebut. Perjalanan berbukit dengan pohon Sengon dan alpukat bertebaran dilahan pertanian warga. Melipir dibibir bukit dengan pemandangan sungai disisi kanan, sungai tersebut adalah sungai yang mata airnya berasal dari air terjun tretes. Petunjuk jalan kami hanya sungai itu, kalau terus mengikuti sungai itu maka kita akan tiba dihulu sungai dan tibalah di Tretes. Setengah jam pertama kami sudah masuk ke hutan, hutan tropis dengan pemandangan yang memukau. Tebing yang tinggi dengan pohon besar yang terlihat masih begitu alami. Kami berjalan terus menyusuri sungai dengan air yang dingin dan diantara semak-semak sesekali kami berhenti untuk mengambil nafas dan berfoto-foto ria. Mungkin ini menjadi alasan mengapa air terjun Tretes tidak menjadi tempat wisata seperti kebanyakan air terjun lainnya di Jawa Timur, aksesnya masih sulit dan masih terlalu alami untuk sebuah wisata keluarga. Tempat ini sangat istimewa bagi saya karena suasana perjalanannya begitu berkesan karena suasana hutan yang begitu terasa. Sudah lama saya tidak main ke hutan seperti ini, selain mengobati rasa rindu suasana seperti ini juga untuk melatih otot, apakah masih sekuat dulu.

Sisi bibir sungai dan lumpur didaerah lemabahan merupakan areal terbaik untuk berkembangnya jenis  hewan basah seperti Pacet. Itu kami buktikan dengan banyaknya pacet yang menempel dikaki, berkali-kali perjalanan kami harus berhenti untuk mencabut pacet tersebut supaya tidak terus menghisap darah segar. Tantangan ini menjadi tambah seru perjalanan hingga dari kejauhan kami melihat air terjun dan mempercepat langkah. Tepat 2 jam kemudian kami tiba persis didepan air terjun Tretes. Kabut tebal menutupi pandangan kami ditambah derasnya tempias dari air yang jatuh membuat mata sulit untuk bisa melihat ke atas. Areal sekitar air terjun ini masih begitu alami, terlihat dari rumput liar yang tumbuh secara alami dan ketika kami disana selain kami ada 4 orang warga sekitar dan setelahnya cuma ada kami ber-sembilan disana. Air terjun ini terletak di kabupaten Jombang dengan tinggi 170m terletak di ketinggian 1700mdpl merupakan air terjun tertinggi di Jawa timur. Menjadi menarik karena konon katanya di air terjun ini Patih Gajah Mada dari Gajah Mada pernah mandi dan mencuci kereta kudanya.

Menyebrangi sungai

Takjub saya melihat air terjun ini, ini adalah air terjun tertinggi yang pernah saya kunjungi. Tempatnya masih sangat alami dibandingkan dengan air terjun lain karena sudah dijadikan tempat wisata. Airnya yang dingin dan terasa sangat segar, kami menyempatkan berbasah-basahan dibawah guyuran airnya dan berendam di riak air terjun. Tidak butuh waktu lama untuk berendam disana karena kami sudah menggigil karena dingin dan hembusan angin gunung. Tempat ini masih alami. Andai saja semua tempat wisata seperti ini tentu sangat menyenangkan dan benar-benar menjadi sebuah wisata alam yang menyenangkan. Selain masih jarang saya temui sampah dari pengunjung juga karena suasana hutannya begitu terasa disini. Kami mengambil dokumentasi tempat ini dan istirahat sejenak sambil menikmati pemandangan sambil meneguk minuman hangat dan beberapa dari kami menghisap tembakaunya dan belum puas kami mengagumi pemandangan tersebut kami harus menyudahinya mengingat perjalan pulang masih jauh.

Tretes tertutup kabut

Kami turun dengan jalur yang sama dengan waktu tempuh yang lebih singkat karena jalanan relatif menurun. Setiba di desa Galengdowo kami ijin pamit dan mengayuh sepeda untuk mencari peternak sapi dan membeli beberapa liter susu segar untuk sekedar mencicipi dan menyegarkan tubuh. Puas beristirahat dan mengisi perut di desa kami segera melanjutkan perjalanan pulang bersepeda. Jalan turunan dan tikungan tajam menambah seru perjalanan kali ini, beberapa dari kami sampai beberapa kali terperosok ke semak karena rem sepeda tidak berfungsi dengan baik. Kami berhasil dengan selamat sampai kami diba dititik dimana kami berkumpul tapi pagi. Petualangan lebih dari 12 jam itu singguh berkesan bersama teman-teman dihari minggu itu. Kita akan susun rencana bersepeda ke tempat lain disekitar sini, setuju?

Foto oleh : Esti ‘hasbi’

About isackfarady

drink water
This entry was posted in Journey. Bookmark the permalink.

6 Responses to Cerita dari Tretes

  1. Gejor says:

    Jiah… Main sepedaan sekarang. Beli sepeda dong Tong. Sepeda lipat, jadi bisa dibawa ke mana-mana.🙂

  2. isackfarady says:

    Iya.. pengen sih beli sepeda tapi ga sepeda lipat. Enakan sepeda yang bisa diajak touring hehehe…

  3. Astacala says:

    Kemeja biru tua merk Columbia itu

  4. Yoga says:

    Mantab Hak…kpan2 lagi.

  5. nopan says:

    air terjunnya tinggi sekali. kerennnn…

  6. pencangkul says:

    ini cerita dari kampung saya, setidaknya satu kecamatan. dulu pertengahan 90-an sampai 2001, saya sering jadi “guide” ngantar teman-teman kesini, kadang jg nemenin camping.

    Salam,
    http://pencangkul.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s