Percakapan Kopi Susu


Angin dari jendela terus menderu seiring laju kereta, di dalam gerbong kereta yang penuh sesak dengan penumpang dan pedagang yang lalu lalang. “Tak ada alasan untuk menolak pilihan hidup yang sudah kita jalani” Salah satu ucapan yang saya ingat dari perbincangan malam itu, sebelum saya terlelap tidur. Saya tidak bertanya berapa usianya, menurut saya sudah 40 tahun lebih seperti yang terlihat dari raut wajahnya. Saya punya dua orang putri di Jawa sana, yang paling tua kelas dua SMP, dan yang satunya kelas 6 SD. “Mereka anak yang cantik, lebih cantik dari istri saya” akunya. Pak Narto namanya, pria paruh baya dengan jaket biru dan sebuah tas yang dijadikan bantal sandaran menuju ke stasiun yang sama dengan saya, ke Bandung. Pria itu yang pertama membuka percakapan kami malam itu.

Saya memesan minuman hangat pada ibu pedagan minuman yang entah sudah berapa kali lewat disamping saya. “Kopi susu ada Bu?” Tanyaku, “Ada Mas” Jawabnya. Bukan karena rasa kantuk saya memesan kopi, tapi justru karena mata belum bisa terpejam dan sepertinya saya akan punya teman baru dikereta ini. Dari perbincangan awal muncul pertanyaan standar, sudah berkerja atau bersekolah dimana dan asal dari mana. Saya hanya menjawab dengan jujur seadanya. Saya bertanya balik dengan pertanyaan yang sama dan ternyata Pria paruh baya itu berkerja menjadi buruh di Bandung dan berasal dari Gresik, Jawa Timur. Menjadi buruh bukan pekerjaan pilihan yang tepat seandaianya dia bisa memilih. Menjadi pekerja bangunan yang sedang berkerja dalam pembangunan sebuah hotel mewah di Bandung memang suatu pilihan yang sulit. Harus berpisah dengan keluarga dan hidup di lingkungan yang kurang mengenakkan merupakan sebuah tantangan yang berat dan banyak yang gagal dalam hal bertahan untuk pekerjaan yang satu ini. Harus mengangkat semen, menggali lubang, atau mengikat besi dengan kawat bahkan tak jarang harus mengaduk pasir semen di bawah terik matahari adalah tugasnya. Sudah lebih dari sepuluh tahun saya menjadi kuli bangunan, walaupun sering berganti pekerjaan karena sedang tidak ada proyek bangunan yang mencari kuli, jadinya berpindah-pindah. Saya pernah menjual ayam potong, mengangkat beras di gudang Dolog -Bulog- dan menjadi tukang las. Namun kuli bangunan yang paling sering saya jalani karena sudah nyaman disana.

“Soal pekerjaan, Jangan disesali Mas! dijalani saja, nanti juga enak sendiri” Saya kaget dengan perkataan pria ini, seolah tanpa beban dia berkata seperti itu. Saya  dikejutkan dengan kata-kata itu. Bagaimana tidak, saya seperti dipukul telak oleh kata-kata itu. “Apa yang kita dapat ini semua sudah sesuai dengan yang kita usahakan Mas, tak ada yang salah selain masalah usaha saja” lanjutnya. Saya terdiam, pria itu berlanjut mengeluarkan kalimat dari mulutnya sambil membakar rokok, mungkin dia menjadi semangat karena tahu saya menyimak setiap kata-katanya, seperti anak SD yang sedang mendengar dongeng. Sesesakali saya menganggukkan kepala tanda kagum dan setuju dengan perkataan dari pria tersebut. “Mas, sudah jadi Insinyur ya? Bersyukur saja Mas, sudah lebih baik dari saya” Saya mengangguk merendah diri. “Saya tidak pernah mengutuk diri saya kenapa saya terlahir dengan serba kekurangan, saya tidak kenal bapak saya karena dari saya lahir saya dibesarkan nenek dan bapak saya bekerja di Jakarta” lanjutnya. Saya sambil memegang gelas kopi yang sudah mulai dingin itu sangat tertarik dengan kesimpulan yang diberikan oleh pria ini. Kita akan semakin sakit dan akan semakin jauh dari tujuan kalau terus melihat keatas tanpa melihat kebawah, karena itu cuma membuat rasa dengki dan iri kita yang akan meningkat. Begitu kiranya kesimpulan yang saya ambil dari perkataan yang tidak ada putusnya dari pria tersebut, seperti memberi kuliah tujuh menit tanpa spasi saat dia berbicara.

Dengan logat jawa timurannya yang masih kental, pria itu terus bercerita.  “Apa yang sudah saya dapat ini adalah apa yang telah saya usahakan, bukan datang kebetulan” dengan mata yang melayang menembus jendela kereta. “Kebetulan itu hampir tidak ada, yang pasti ada hanya usaha saja” tambahnya. “Apa jadinya kalau saya ‘ngambek’ dengan pekerjaan saya sebagai kuli bangunan dan berharap jadi mandor? sementara saya tidak punya pendidikan dan pengalaman apa-apa selain menjadi kuli bangunan harian” Menurutnya, menjadi kuli bangunan memang sudah sesuai dengan kemampuannya, dan dia harus menerima itu. “Kalau saya mau jadi mandor tentu usaha saya tidak sekecil yang sudah ada, harus lebih besar” tambahnya. Saya membatin, benar saja, semakin kita tidak mensyukuri dan menikmati atas apa yang telah kita raih dan kita peroleh maka kita akan semakin merasa jauh melenceng dari impian kita selama ini. Saya sangat malu, karena terlalu sering tidak menyukuri atas apa yang telas saya raih, selalu merasa kurang, selalu merasa tidak puas yang berlebihan dalam banyak hal. Jauh dari pria ini.

Dalam beberapa hal pria ini memberi saya peringatan akan kalau ingin enak akan sesuatu hal jangan ditunggu enak itu datang, tapi ciptakanlah rasa enak itu sesuai dengan kemauan kita sendiri. Sebagai contoh -lanjut cerita pria tersebut- kalau saya dulu berpikir kalau banyak uang itu enak, maka saya akan terus mengejar uang, saya jadi tidak mengejar cara mencari uang dengan acra yang enak, walaupun hasilnya bukan uang yang banyak. Maksudnya dia harus bisa mencari kenikmatan dalam bekerja, sehingga tidak menjadi orang yang dibutakan oleh mencari uang saja. Baginya uang hanya pelengkap pembayaran saja. Kalau telah menikmati pekerjaan dan kau bisa enak dengan cara itu maka terimalah. Tidaklah aneh jika perkataan dan pemikiran seperti ini saya dengar dari teman saya yang sukses atau dari atasan saya, karena saya berpikir mereka sudah berkecukupan jadinya mereka merasa diatas angin, stabil, santai. Namun yang membuat saya kagum adalah yang mengatakan untuk mensyukuri pekerjaan adalah orang yang -maaf- kuli bangunan, dengan pemikiran yang bagus. Dia memang mengakui bahwa duit yang diterimanya dari gaji sebagai kuli bangunan memang jauh dari cukup untuk menghidupi keluarga dengan layak, namun baginya yang penting dia sudah berusaha. Dua orang gadis andalannya di rumah masih dibangku sekolah, waktu untuk berkumpul dengan keluarga adalah hal sulit dan mahal.

Dia memang jauh dari anak istri dan itu memang resiko darinya, namun harus tetap dijalani. Toh, kalau terus dipungkiri tidak akan banyak merubah keadaan. Jadi lebih baik jalani saja dan tetap ingat akan tanggung jawab sebagai seorang Bapak, katanya sambil tertawa lirih. Saya juga meyambut senyumnya. Dengan penghasilan kecil dan jauh dari cukup pria ini masih bisa tertawa dan menikmati hidupnya. Sering saya melihat terkadang banyak orang yang seperti tidak pernah puas sehingga tidak bisa menikmati keadaan yang ada dan cenderung melakukan hal yang dipaksakan sehingga berhasil buruk. Ada sebuah kewajiban untuk kita untuk menerima atas keadaan yang diberikan dan menikmatinya.

Obrolan tengah malam itu rasanya lebih dari satu jam, kopi susu yang saya pesan tinggal satu teguk lagi. Rasanya saya ingin segera memejamkan mata, sekali lagi bukan karena rasa kantuk, tapi karena ingin rasanya saya berpikir dalam-dalam tentang semua perkataan pria itu. Benar kata pria itu, kenikmatan akan sesuatu itu jangan ditunggu, ciptakanlah kenikmatan itu dengan cara kita sendiri. Itu hal yang paling sering saya lupakan, sehingga seringkali saya melakukan hal yang menyenangkan tapi tidak bisa menikmatinya. Saya hanya tersenyum kecut mengakui kesalahan sambil mencoba memjamkan mata setelah meneguk kopi susu yang sudah terlanjur menjadi dingin.

Jawa Timur – 1

About isackfarady

drink water
This entry was posted in Journey, Opinion. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s