Selomangleng, Sisa Kejayaan Kahuripan


Sinar mentari tersaring dari rimbunnya pepohonan disambut suara kicau burung diantara ramainya pengunjung yang mulai berdatangan di taman wisata Selomangleng. Rombongan sepeda datang bersamaan dengan mobil dan sepeda motor yang saling berebutan tempat parkir, pagi ini sudah terlihat ramai. Tempat ini menyediakan beberapa tempat hiburan murah dan berwawasan wisata budaya di kota Kediri.

Sebuah kolam renang, wahana permainan anak, pesta musik dangdut hingga pasar kaget tersedia disini. Tapi bukan itu tujuan saya datang ke tempat ini. Saya sempat membaca beberapa artikel tentang kerajaan hindu di tanah Jawa pada abad ke-11 dan salah satu bukti peninggalannya ada disini, Goa Selomangleng. Sebuah tempat yang berkaitan erat dengan cerita rakyat dan bukti sejarah tentang kejayaan kerajaan-kerajaan Hindu abad ke-11. Cerita tentang Dewi Kilisuci, seorang puteri mahkota Airlangga yang terkenal dari kerajaan Kahuripan yang menjadikan tempat ini sebagai tempat pertapaannya. Tempat ini menjadi salah satu tempat tujuan wisata keluarga di kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Museum Airlangga

Terlihat jelas nuansa kerajaan Jawa begitu masuk ke area ini. Sebuah patung (tugu) besar Dewi Kilisuci menyambut pengunjung di awal pintu masuk. Pengunjung paling tertarik dengan wahana wisata air dan goa Selomangleng. Sebuah goa sejarah yang masih dapat dikunjungi dan dimasuki sampai sekarang. Selanjutnya terdapat juga sebuah bangunan bersejarah, Museum Airlangga, masih dalam kawasan tersebut. Tujuan utama kami adalah mengunjungi museum tersebut. Dari yang saya tahu museum ini menyimpan benda-benda sejarah sisa-sisa peninggalan kerajaan Kahuripan dan kemegahan masa tersebut. Benar saja, begitu masuk kedalamnya setelah membayar Rp. 1000/orang kami langsung disuguhkan berbagai macam batu berukir dan patung bermacam bentuk. Jauh dari bayangan saya tentang sebuah museum. Museum yang ada dalam bayangan saya adalah ruang besar, penuh dengan barang yang langka dan dikemas ekslusif seolah itu barang yang sangat berharga dan tidak bisa disentuh pengunjung. Keliahatannya aturan itu tidak berlaku di museum ini, betapa tidak, semua batu dan patung dibiarkan berdiri tegak dalam ruangan. Tak ada lemari kaca yang menahan dari debu atau pegangan dari pengunjung. Semua terkesan dibiarkan begitu saja.

Pajangan Patung Airlangga

Banyak batu yang dipajang dengan bermacam bentuk dan ukuran. Beberapa diantaranya diberi tulisan sebagai pengantar cerita dan keterangan. Semua benda sejarah dari kerajaan Kadiri dan Kahuripan ini adalah hasil penemuan dari arkeolog maupun warga sekitar yang disumbangkan ke Badan Cagar Budaya Kabupaten Kediri. Barang ini mempunyai nilai sejarah yang tinggi dalam mengambarkan bagaimana budaya dan kehidupan dijamannya. Tentang bagaimana peradaban dan berbagai cerita kehidupan kala itu bisa dilihat dari peninggalan batu dan beberapa alat perdagangan. Ada bermacam bentuk batu ukiran yang menceritakan tentang kehidupan kala itu, tentang perjalanan raja Airlangga sebagai pendiri kerajaan Kahuripan dan cerita tentang Dewi Kilisuci dapat ditemukan disini. Patung Airlangga pun dengan gagahnya dipamerkan diruangan tersebut. Banyak batu ukir yang menggambarkan tentang kehidupan masa peradaban Hindu dan Jawa jauh sebelum Indonesia terbentuk. Sebuah cerita yang harusnya lebih banyak diketahui oleh para generasi muda.

Suasana Di Dalam Museum

Suasana di dalam museum

Ada sebuah keganjilan yang terlihat saat saya berada di kawasan museum. Selain batu dan patung yang terpajang didalam ruangan terkesan seadanya tapi itu terlihat juga masih ada beberapa patung, arca dan benda sejarah lain yang dipajang diluar gedung museum. Hanya saja yang dibagian luar ini sudah kebanyakan ditutupi lumut sehingga warna batu sudah berubah menjadi kehijau-hijauan karena tidak terlindung dari hujan bahkan ada beberapa yang tidak terlihat lagi ditempat pajangannya. Ada pula sebuah pedati dan beberapa alat pertanian yang dipamerkan namun dalam kondisi yang tidak terawat. Jika saja museum ini dapat dipercantik dan ditata pada beberapa bagiannya tentu benda sejarah ini akan dapat dinikmati dengan lebih nyaman dan lebih bisa bertahan lama. Sungguh sangat disayangkan jika benda sejarah dibiarkan seperti itu. Alangkah baiknya jika benda tersebut ditata dengan rapi didalam gedung atau dibuat sedemikian rupa sehingga terlihat lebih terawat. Selain mencegah dari kerusakan karena cuaca juga menghindari dari tangan jahil pengunjung atau mungkin pencuri benda sejarah.

Goa Selomangleng, lorong menuju laut selatan

Sebuah lubang goa berwarna hitam masih berdiri tegak diantara rimbunan pohon. Goa itu basah dibeberapa bagian karena aliran mata air dan sebagian sudah dilumuri lumut tebal. Pohon tua hitam ini adalah saksi mata tentang cerita pelarian Dewi Kilisuci dari kemegahan kerajaan dan memilih untuk bertapa untuk memperoleh ketenangan batin di gua kecil ini.

Goa Selomangleng yang hitam dan berlumut

Asap pekat sangat terasa saat memasuki ruangan sempit Goa. Suasana gelap karena tidak ada penerangan hanya mengandalkan sinar matahari yang masuk dari pintu mulut goa, sehingga sulit untuk melihat kondisi didalam goa tersebut. Dengan sedikit cahaya yang masuk, bisa terlihat ukiran pada dinding goa yang memang berbentuk seperti sebuah kamar itu. Menurut penuturan seorang pegunjung ukiran tersebut adalah cerita tentang pertapaan Dewi Kilisuci, seorang putri Airlangga yang menjadi pewaris tahta kerajaan Kahuripan, namum melilih mengundurkan diri sebagai seorang pertapa. Seorang kakek tua yang menjadi kuncen atau ‘juru kunci” yang menjaga goa sempit ini tidak bisa berbahasa indonesia sehingga saya sulit untuk mengetahui cerita tentang gua ini lebih jauh. Suasana mistik sangat terasa disini, banyak orang meletakkan sesajen dan mengucapkan doa serta sengaja datang ketempat ini untuk kepentingan sesuatu seperti pengharapan akan sebuah impian dan mohon dikabulkan, dan juga dijadikan sebagai tempat bertapa. Bung Karno, Presiden Indonesia pertama konon pernah mencari ketenangan denga bertapa disini.

Dewi Kilisuci yang bernama asli Sanggramawijaya Tunggadewi adalah puri dari Raja Airlangga yang memilih untuk bertapa dan menjauhi diri dari kemegahan hidup kerajaan. Dari cerita rakyat Dewi Kilisuci adalah cikal dar penguasa laut selatan pulau Jawa. Konon goa ini menjadi jalan tembus menuju laut selatan di pulau Jawa. Tempat ini menarik untuk dikunjungi selain untuk sekedar menikmati waktu libaran juga untuk mengenal sejarah masyarakat Jawa. Dapat juga untuk belajar memahami kehidupan jaman sebelum negara ini terbentuk dimana sudah terdapat kebudayaan yang harus diketahui. Mengunjungi tempat ini juga bisa dijadikan tempat memahami tentang nilai kebijakan oleh Dewi Kilisuci untuk tidak mengutamakan kekayaan diri bermegah-megahan dalam kehidupan tapi lebih memilih untuk menyendiri dan menenangkan pikiran untuk mencari kedamaian hati.

Jawa Timur – 2

Data tulisan disarikan dari Wikipedia dan beberapa sumber lain.

Foto dari dokumentasi pribadi.

About isackfarady

drink water
This entry was posted in Journey, Opinion. Bookmark the permalink.

6 Responses to Selomangleng, Sisa Kejayaan Kahuripan

  1. nolsatugr says:

    kill nothing but yourself, take nothing but picture, leave nothing but fingerprints😛 dah banyak sidik jari tangan2 nakal penggenjot spedah… awawawaw.. hahahaha…
    Untungnya ga ada tulisan “crazy people was here!”😛
    weits ada foto gua, royalti bro ekekeke..😀

  2. isackfarady says:

    Hei Brother… crazy people was here! Nanti kita upload lagi cerita kita bersepeda ke candi-candi yang lain.

  3. Baju Wanita says:

    wah, keknya belum banyak yg tau nih, izin share ya.. salam kenal🙂

  4. nolsatugr says:

    wew dah salah diikutin lagi… bukan “…was here” tapi “…were here” kale… ahahaha… selamat berjuang lagi kawan… dengan pena dan buku, semoga sukses.. keluar kandang singa masuk kandang macan.. semoga cepat keluar dan selamat ahahaha…

  5. Rumah says:

    terima ksih Infonya ^_^
    nice post🙂

  6. Kontraktor says:

    perlu di lestarikan nih…

    thx infonya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s