Museum Gula, Manisnya Sejarah Gula Indonesia


Masa lalu Indonesia sebagai salah satu negara koloni Belanda tentu tidak bisa dipisahkan dari sejarah tentang perkebunan dan pemanfaatan hasil bumi. Hasil bumi ini pula yang mengundang banyak pendatang dari bangsa eropa untuk singgah dan membuka jalur perdagangan. Hasil bumi yang berlimpah menjadi lahan baru bagi bangsa kolonial untuk masuk ke indonesia dan memanfaatkannya untuk kejayaan dan kebutuhan ekonomi bangsa eropa. Salah satu primadona dari perkebunan indonesia yang sempat mendunia adalah industri perkebunan tebu sebagai bahan baku pembuatan gula. Walau asal-usul gula sudah lama dikenal namun gula kristal yang berasal dari tebu masih merupakan barang yang mewah pada awal abad ke-17.

Sejarah mencatat bahwa Indonesia, pada saat itu masih Hindia Belanda, pernah menjadi bangsa pengekspor gula terbesar di dunia setelah Cuba pada kisaran tahun 1930 – 1940 (data Kementerian Pertanian). Sejarah dan perkembangan gula telah banyak dibahas dan diceritakan di beberapa sumber internet dan literatur lain. Khusus untuk di Indonesia sendiri, mengenai sejarah permulaan produksi gula dari tanaman tebu masih diperdebatkan. Sejarah tanaman tebu sebagai bahan utama pembuatan kristal gula diperkirakan telah dibudidayakan di Jawa. Adalah I-Tsing, perantau dari China mencatat bahwa pada tahun 895 SM, gula dari sari tebu dan nira kelapa sudah diperdagangkan di Nusantara, jauh sebelum Belanda datang. Namun menurut Marcopolo, hingga abad ke-12 di pulau Jawa belum berkembang industri gula seperti yang telah berkembang di China dan India. Justru kedatangan bangsa eropa khususnya Belanda pada abad ke-17 lah yang memperkenalkan tanaman tebu dan mengembangkan industri gula di tanah jawa dan nusantara. Pada pertengahan abad ke-17, industri gula mulai didirikan di daerah selatan Batavia, dan dikelola oleh orang-orang China bersama para pejabat baik dari pihak bumi putera maupun dari pihak VOC. Pengolahan gula saat itu masih berjalan dengan proses yang sangat sederhana dan masih menggunakan hewah seperti kuda dan sapi sebagai mesin penggerak.

Museum Gula Gondang Baru

Sebagai bukti tentang perkembangan perkebunan tebu dan produksi gula di Indonesia dapat dinikmati dengan mengunjungi Museum Gula, di kota Klaten. Museum ini terletak di bangunan tua bekas di dalam komplek pabrik gula Gondang Baru, Klaten, Jawa Tengah. Museum gula berlokasi 25 km dari kota Yogyakarta dapat dijadikan salah satu tujuan wisata jika berkunjung ke kota Klaten atau Yogjakarta dan sekitarnya. Di sini  pengunjung tidak hanya akan mendapat pengetahuan baru tentang sejarah perkebunan tebu dan gula tetapi juga bisa dijadikan altenatif wisata dengan suasana yang berbeda. Selain  wisata  sejarah, khususnya sejarah perkembangan perkebunan tebu dan gula di Indonesia.

Museum gula ini banya menyimpan benda sejarah yang berkaitan dengan alat produksi pengolahan batang tebu menjadi kristal gula dan perkembangan teknologi didalamnya. Pada bagian dalam ruangan museum terdapat peta atau maket dari pabrik gula Baturaja yang ada di kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan. Ada pula beberapa foto yang menggambarkan kejayaan perkebunan dari jaman kolonial hingga jaman pendudukan Jepang. Tentang pajangan foto yang menggambarkan ritual peresmian beberapa pabrik gula Indonesia di zaman nasionalisasi pabrik gula menambah semarak isi museum.

Salah satu lokomotif tua sisa perkebunan tebu

Semua benda yang dipamerkan di dalam museum gula ini tidak hanya sebatas pada peralatan produksi gula yang sudah menggunakan teknologi tercanggih pada zamannya, tapi juga dipajang beberapa peralatan pada masa awal perkembangan dengan peralatan yang masih sangat tradisional. Alat untuk mengukur kualitas dari kristal gula yang dihasilkan dari tebu adalah salah satu benda yang dipajang yang paling menarik perhatian saya. Ada pula beberapa contoh gula yang dihasilkan dari kristalisasi tebu yang menunjukkan hasil dan kelas dari gula tersebut. Benda sejarah lain yang dipamerkan sangat beragam dari alat dan mesin pabrik, alat penerangan, alat timbang, perkakas yang digunakan oleh petani tebu hingga jenis tanaman batang tebu berikut hama tebu yang dikenal dan dihasilkan dari perkebunan Indonesia. Di ruangan lain ada pajangan alat hitung seperti kalkulator dan alat pencatat produksi yang bisa dikatakan sangat canggih pada masanya, ini wajar mengingat perdagangan gula pada masa itu sudah memasuki skala ekspor ke berbagai belahan dunia.

Mesin tua peninggalan Belanda

Namun sangat disayangkan karena banyak dari koleksi benda sejarah yang dipamerkan tidak dilengkapi dengan keterangan dari benda tersebut. Mengingat benda yang menjadi pajangan adalah barang yang asing untuk masyarakat awam seperti saya, alangkah lebih baik jika disetiap benda yang dipajang diberikan keterangan seperti fungsi, tahun pembuatan dan keterangan umum lainnya. Keterangan tersebut selain untuk menarik minat pengunjung juga untuk memberi gambaran yang lebih jelas tentang benda yang dipamerkan.

Beralih ke pajangan di luar ruangan museum, benda yang dipajang di sini didominasi oleh mesin produksi dan alat angkut perkebunan dan pabrik. Ada sebuah kereta gerobak (bendi) yang digunakan untuk mengangkut hasil tebu dengan menggunakan tenaga kuda sebagai penariknya. Ada sebuah lokomotif tua yang menarik untuk dilihat karena menurut yang saya baca di internet, lokomotif yang dipajang tersebut adalah lokomotif tua hasil diimpor langsung dari negeri Eropa. Beberapa diantaranya adalah lokomotif uap buatan abad ke-19 dan dibawa langsung dari negara pabrikannya, Jerman adalah salah satunya. Dengan berbagai macam mesin gerigi dan lokomotif tua yang dipajang semakin membuat museum ini menarik untuk dikunjungi. Namun lagi-lagi minimnya keterangan tentang benda yang dipajang membuat saya dan pengunjung lainnya kesusahan untuk mencari tau informasi dari benda tersebut, sehingga cerita dan kisah sejarahnya menjadi kurang tersampaikan.

Diantara lokomotif tua tersebut ada sebuah lokomotif tua yang diberi nama SIMBAH. SIMBAH ini seakan menjadi icon paling terkenal dari museum ini. Berdasarkan informasi dari internet saya catat bahwa lokomotif ini digunakan untuk mengangkut tebu di perkebunan yang sudah ditumpuk di suatu titik untuk kemudian dibawa ke pabrik pengolahan dan selanjutnya di jadikan kristal gula. Ada pula lokomotif yang dibuat oleh pabrikan Backer dan Rubb Prada Nederland tahun 1889. Kemudian ada beberapa pajangan lokomotif lain yang sepertinya juga digunakan untuk keperluan yang sama. Secara keseluruhan, museum ini memang menyajikan benda yang membuktikan bahwa Indonesia adalah salah satu dan atau pernah pemain penting dalam industri produksi gula dunia pada jamannya. Walau kini usaha gula indonesia masih besar namaun itu tak lepas dari sejarah perkembangan gula dari jaman kolonial.

Dengan mengunjungi museum yang diresmikan pada hari sabtu kliwon tanggal 11 september 1982 atas prakarsa gubernur Jawa Tengah saat itu, Soeparjo Roestam dan dukungan dari Dirut PTPN XV-XVI, saya seperti diingatkan kembali tentang sebuah cerita sejarah. Sebuah upaya pemanfaatan teknologi yang dibawa oleh para koloni yang kemudian dikenalkan kepada masyarakat pribumi untuk melaksanakan tuntutan kebutuhan ekonomi bangsa maju. Sebuah cerita mencatat bahwa Van Den Bosch adalah tokoh yang memberlakukan Cultuurstesel, yaitu penerapan kerja yang memeras bukan saja tenaga dan keringat warga pribumi, tapi juga kekayaan dari hasil bumi daerah jajahannya, yang kemudian kita kenal sebagai nusantara tercinta ini. Museum gula membuat saya terkenang akan manisnya masa dimana kita bisa mengekspor gula  ke berbagai dunia. Semoga produksi gula nasional kita bisa kembali jaya seperti dulu tentunya tidak dengan kerja paksa dan rencana pemerintah untuk swasembada gula tidak hanya menjadi mimpi semata. Hidup produksi gula Indonesia.🙂

Sumber cerita: dari sini, sini, sini. Foto: Koleksi pribadi.

About isackfarady

drink water
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Museum Gula, Manisnya Sejarah Gula Indonesia

  1. Duh,tugas q numpuk. Berkat google berkurank. Tpi yg di sajikan kurank memuaskan sch. Y g pa2 lh

  2. HeruLS says:

    Wah, sudah ke sana yah?
    AKu mau ke sana tapi batal, karena kudengar tarif masuknya mahal kali, sampai Rp100.000 per orang, benarkah?
    Sayang juga kalo info per pajangan tidak lengkap, padahal sudah bayar mahal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s