Belajar dari Juragan Teh Malabar


“Di alam yang indah dan lingkungan yang bersinar cerah, pria itu sekan-akan berada dalam rumahnya sendiri. Dia besar dan kuat seperti gunung berapi, dia pekat dan halus seperti kehijauan daun teh, sama seperti langit biru yang membentang.”

Begitulah penulis Louis Couperus (1863 – 1923) menggambarkan kesannya tentang perkebunan di dataran tinggi Pengalengan yang pernah dikunjunginya pada tahun 1921. Pria yang digambarkan oleh Couperus tidak lain adalah Karel Albert Rudolf Bosscha. Seorang warga Belanda yang mempunyai peran penting dalam pembangunan dan memajukan kota Bandug dalam berbagai bidang. Bosscha yang lahir di s-Gravenhage/Den Haag pada tanggal 15 Mei 1865 merupakan putra dari seorang fisikawan Belanda terkenal yang mengajar di Technical Institute in Delft. Peran Bosscha dalam perkembangan bumi Priangan dapat dilihat dari berbagai hasil karya yang masih tersisa hingga kini.

Observatorium Bosscha yang terkenal di Indonesia hanyalah salah satu dari sekian banyak peran lain yang tidak kalah penting adalah hasil sumbangan Bossha terhadap kemajuan di bidang pendidikan khususnya bidang astronomi. Sebut saja Technische Hoogeschool atau sekarang disebut ITB, sebuah laboratorium fisika hasil sumbangannya masih dapat dinikmati hingga kini. Lain halnya dengan mendirikan pabrik karet Hindia Belanda (de Nedherlandsch – Indische Caoutchouc Fabriek) pada tahun 1915, mendirikan Perusahaan listrik Bandung (de Bandoengsche Electriciteits Maatschappij), Perusahaan Impor Mobil (de Automobiel Import Maatschappij), Bursa Dagang Tahunan Hindia (de Nederlandsch-Indisch/Badoeng Jaarbeurs), Lembaga Kanker Hindia Belanda (het Nederlandsch-Indisch Kanker Instituut), Rumah sakit Kota (het Stedelijk Ziekenhuis) dan masih banyak peran lainnya yang sering luput dari cerita sejarah.

Karel Albert Rudolf Bosscha datang ke Indonesia, saat itu masih Hindia Belanda, pada tahun 1887 saat masih berusia 22 tahun. Adalah Edward Julius Kerkhoven, seorang pemilik perkebunan teh di Sukabumi yang mengajak Bosscha untuk berkerja padanya. Di negeri Belanda, Bosscha sempat mengenyam pendidikan bidang civil engineering namun tidak diselesaikannya. Berkat bantuan Kerkhoven dan bekal ilmu yang dimilikinya, Bosscha berhasil mendirikan sebuah pabrik teh dengan teknologi yang masih tergolong baru pada zamannya sehingga mampu meningkatkan hasil produksi teh. Teh dan kina dari bumi priangan mampu menembus pasar eropa. Teh jenis Assam adalah primadona dari perkebunan ini. Teh jenis ini masih bisa dilihat hingga kini dan dibiarkan tumbuh tinggi untuk mengenang jasa Bosscha dalam pengembangan perkebunan teh Malabar. Inilah masa keemasan bagi juragan Bosscha sebagai juragan teh Priangan. Bosscha berhasil membangun pabrik teh dan perkebunan kina menjadi hasil yang mendunia saat itu.

Lokasi dan bentuk makam Bosscha yang tidak umum menarik minat wisatawan.

Mengunjungi makam Bosscha yang berlokasi di tengah perkebunan teh Malabar yang sejuk adalah cara yang menarik untuk mengenal kehidupan Bosscha dengan lebih dekat. Kondisi makam masih terawat dengan dominasi warna putih untuk setiap ornamennya. Bentuk dari makan ini jauh berbeda dengan makam pada umumnya. Tiang penyangga atap yang berbentuk bulat setengah bola menutupi makam dari hujan. Ada sebuah foto dan pahatan batu nisan terpajang disana. Berdasarkan cerita Pak Upir sebagai penjaga makam, tempat ini sering dikunjungi oleh wisatawan lokal dan mancanegara. Bahkan masih menurut cerita Pak Upir, pada tahun 2006 salah satu anak dari Bosscha yaitu Noni Bosscha pernah berziarah kesini. Noni Bosscha yang saat itu sudah berumur 70 tahun dan tinggal di Sukabumi menaruh rangkaian bunga di makam tersebut. Menurut beberapa artikel, Bosscha memang tidak menikah namun ia mempunyai 3 orang anak dari 8 selir yang dekat dengannya.

Nilai positif yang dapat diambil dari keberhasilan Bosscha dalam menjadi seorang yang kaya raya dan berhasil di bidang perkebunan adalah sikap kedermawanannya yang masih bisa dilihat hingga saat ini. Selain peran serta dan bantuannya terhadap kemajuan berbagai bidang di kota Bandung, dalam urusan mengelola perkebunan Bosscha juga memperhatikan kepedulian tentang nasib warga dan para pekerja perkebunan. Masih dalam areal perkebunan teh Malabar, butuh waktu 15 menit untuk mengunjungi sebuah sekolah yang didirikan oleh Bosscha. Sekolah tersebut dulunya diperuntukkan bagi anak dari para pekerja perkebunan. Sekolah Bosscha ini bisa disamakan seperti Corporate Responsibility Program di zaman sekarang. Sekolah ini sudah lapuk dimakan usia, beberapa bagian dinding sudah berlubang dan terlihat tidak dalam perawatan maksimal. Kini sudah ada bangunan baru disamping bangunan tua itu, sekolah Bosscha pun berubah menjadi SDN Malabar 4.

Sekolah Bosscha kini menjadi SDN Malabar 4 berada di tengah kebun teh Malabar

Dari sekolah Bosscha kita perjalanan dilanjutkan ke kediaman Bosscha yang letaknya tidak jauh dari lokasi tersebut. Memasuki rumah Bosscha suasana nyaman sangat terasa, halaman yang luas, ada sungai kecil mengalir di depan rumah dan pohon yang menjulang tinggi. Bentuk rumah pun bercirikan gaya arsitektur eropa, banyak jendela besar, daun pintu yang lebar, dan terdapat sebuah cerobong asap di bagian depan rumah. Jika dilihat melalui jendela, terlihat perabotan rumah yang masih asli dan berkelas. Rumah ini sekarang dijadikan tempat wisata, terlihat dari dibangunnya beberapa cottage atau rumah inap bagi wisatawan yang menghabiskan hari libur di perkebunan ini. PTPN VIII telah menobatkan perkebunan teh Malabar sebagai kawasan agrowisata. Di rumah inilah Bosscha menghabiskan hidupnya di perkebunan Malabar.

Kediaman Bosscha kini dijadikan kawasan agrowisata di perkebunan Malabar

Ada sebuah bukit di seberang rumah Bosscha, bukit itu adalah yang tertinggi diantara bukit yang ada di sekitarnya. Bukit itu dikenal dengan nama Bukit Nini. Dari bukit ini pemandangan perkebunan dan pemandangan alam Pangalengan terhampar luas. Menurut cerita, Bukit Nini disebut-sebut sebagai tempat favorit Bosscha untuk menghabiskan waktu di sore hari. Mungkin atas alasan itu Bosscha membagun sebuah bangunan yang lebih mirip gardu pandang di puncaknya. Dari atas bukit pemandangan luas kebun teh, pabrik teh, Situ Cileunca, gunung-gunung seperti gunung Wayang, Windu, Papandayan terhampar di depan mata. Rasanya memang menarik jika menghabiskan senja dari atas Bukit Nini.

Bangunan ini dibangun diatas bukit Nini oleh Bosscha untuk menikmati pemandangan perkebunan.

Dari cerita perjalanan hidup Bosscha ada beberapa nilai positif yang bisa diambil. Kisah tentang keberhasilan seseorang yang sejatinya bukan hanya milik satu orang saja. Bagaimana menjadikan orang di sekitar kita menjadi lebih berdaya dengan bantuan atau kesempatan yang kita berikan. Bosscha memberi contoh bagaimana memberdayakan warga dengan memberi pendidikan, membangun rumah bagi buruh perkebunan. Salah satu rumah peninggalan Bosscha yang terkenal yang masih bisa dilihat adalah “rumah hideung”. Rumah hideung atau rumah hitam adalah rumah dengan konsep melumuri dinding rumah dengan aspal. Tujuan dari aspal tersebut adalah agar rumah jauh dari ancaman alam seperti kumbang hutan, rayap dan terjangan hujan. Tentu ini sangat menyentuh, bagaimana seorang juragan yang bukan warga asli pribumi bisa begitu peduli terhadap bebagai macam masalah masyarakat perkebunan, perkembangan ilmu pengetahuan dan sosial lingkungan.

Jika saja setiap perusahaan mempunyai pimpinan yang benar-benar peduli terhadap kesejahteraan karyawan dan warga sekitar. Idealnya, jika di suatu tempat terdapat sebuah perusahaan maju maka -seharusnya- itu berbanding lurus dengan kemampuan warga baik dari segi pendidikan, ekonomi dan sosial lingkungan. Ketimpangan sosial tidak akan terjadi jika saja perbedaan kesejahteraan antara warga, pegawai dan buruh dapat diminimalisir dengan cara sederhana dan mendidik seperti ditunjukkan Bosscha. Boleh jadi akar dari masalah pembangunan daerah terpencil di negara kita saat ini adalah karena banyaknya perusahaan yang tidak mendukung pembangunan daerah sekitar dan menjadikan jurang pemisah di antaranya. Konon katanya, pergolakan warga di bumi priangan terhadap perusahaan di awal abad ke-19 sangat sedikit jumlahnya dibandingkan dengan pergolakan di tanah nusantara lainnya. Boleh jadi itu karena tingkat kesejahteraan antara perusaahan dan warga sekitar berjalan harmonis.

Bosscha telah menunjukkan bagaimana mengelola masyarakat sekitar untuk berdikari dan bisa ikut membantu dalam meningkatkan hasil perkebunan. Bosscha turut berpartisipasi dalam mendirikan fasilitas umum di bidang lain dan bermanfaat bagi orang banyak. Kematian adalah takdir yang tidak bisa dihindari, namun meninggalkan hal baik adalah mutlak. Banyak cerita inspiratif yang saya dapat saat mengunjungi perkebunan teh Malabar di Pangalengan kemarin. Cerita kehidupan Bosscha menunjukkan saya arti berbagi pada sesama walau tidak mempunyai hubungan darah dan kulturan yang dekat. Kini jutaan mata bisa melihat bintang di observatorium melalui Teleskop refraktor ganda Zeiss dan teleskop refraktor Bamberg hasil usaha Bosscha dan teman-teman. Banyak hasil karya yang ditinggalkan masih dapat kita nikmati hingga kini.

Saat kecil dulu, salah satu guru SD saya berkata, “Kalian ingin melihat bintang?” “Datanglah ke Lembang di Bandung sana, disana ada sebuah teropong bintang, Observatorium Bosscha namanya. Kalian bisa melihat bintang dengan jelas dari sana”. Sejak saat itu saya hanya mengenal nama Bosscha adalah sebuah nama tempat dan nama seorang tokoh astronomi dunia. Ternyata saya salah, Bosscha lebih dari sekedar penyumbang teropong bagi bidang astronomi Indonesia. Rasanya tidak berlebihan jika Louis Couperus berujar seperti kutipan di atas.

NB : Tulisan ini disarikan dari beberapa sumber dan berdasarkan interpretasi subjektif penulis.

Sumber:
Engineers of Happy Land: Technology and Nationalism in a Colony By Rudolf Mrazek
http://books.google.co.id/ [diakses 15/10/2012]
http://booksserbasejarah.wordpress.com/2010/07/19/sepenggal-cerita-di-makam-bosscha/ [diakses 15/10/2012]
http://dieny-yusuf.com/karel-albert-rudolf-bosscha-bukan-hanya-ahli-teh [diakses 15/10/2012]
http://www.inghist.nl/Onderzoek/Projecten/BWN/lemmata/bwn1/bosschakar [diakses 15/10/2012]
http://en.wikipedia.org/wiki/Louis_Couperus [diakses 15/10/2012]

Foto : Dokumentasi pribadi

About isackfarady

drink water
This entry was posted in Journey, Opinion. Bookmark the permalink.

4 Responses to Belajar dari Juragan Teh Malabar

  1. familuphz says:

    Hadir bang! top markotop deh,,, :))
    kalau boleh sotoy, alurnya diperhalus lagi bang, sering lompat2 ceritanya, hehehehe…

  2. dayeuh says:

    siiippp… bisa dibikin tulisan juga perjalanan kemarin bang, hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s