Menikmati Pesona Cikuray


Salah satu kegiatan yang selalu menarik untuk dilakukan saat waktu luang adalah pergi ke desa-desa di luar kota. Saya sempat mempertimbangkan untuk bermalam di gunung Manglayang di dekat Jatinangor namun rencana itu berubah saat Rendi, teman di Astacala, mengajak ke Cikuray. Mendengar kata Cikuray saya menjadi berubah pikiran selain itu salah satu gunung yang belum sempat saya sambangi juga karena teman untuk kesana menjadi semakin menarik. Rencana berganti, kita tidak jadi ke Manglayang tapi ke Cikuray. Begitu pesan singkat yang saya kirim kepada teman yang juga ingin ikut bergabung, Gejor. Segera saya mengumpulkan semua informasi pendakian gunung Cikuray dari internet, informasi dari yang pernah ke sana dan dari berbagai sumber yang ada.

Perjalanan Menuju Cikuray

Setelah informasi yang dikumpulkan cukup kami putuskan untuk berangkat ke desa Dayeuh Manggung, Kecamatan Cilawu, kabuaten Garut menggunakan motor untuk menghemat waktu dan biaya perjalanan walaupun ini kurang seru jika dibandingkan dengan menggunakan kendaraan umum. Perjalanan dari Bandung ke desa Dayeuh Manggung memakan waktu hampir 5 jam perjalanan. Kondisi jalan yang buruk saat memasuki wilayah perdesaan menjadi kenadala ditambah medan tanjakan dan berbatu semakin menambah waktu tempuh. Kami tiba di pos pendakian gunung Cikuray pukul 2 siang. Hari tidak terasa terik saat itu karena kabut menutup cahaya matahari sehingga tampak teduk dan sejuk. Pos ini disebut juga pos pemancar karena berlokasi di daerah pemancar stasiun televisi lokal dan nasional. Ada banyak menara pemancar disini, pos pemancar ini adalah satu-satunya titik air sebelum melakukan pendakian ke puncak Cikuray. Setelah mengambil air dan mengisi daftar pengunjung di pos penjagaan kami siap mendaki saat jam tangan menunjukkan pukul 3 sore.

Akar Wangi dan Kabut Cikuray

Tanjakan awal adalah kebun teh sebelum berganti dengan pepohonan di kaki Cikuray hingga tiba di puncak. Keadaan alam di sekitar titik pendakian terlihat perkebunan teh milik PTPN wilayah Dayeuh Manggung dan beberapa perkebunan milik warga. Yang menarik dari perkebunan di kaki Cikuray adalah tanaman yang tampak seperti rumput dan semak yang teryata adalah tumbuhan akar wangi (Vetiveria zizanioide). Tanaman ini sengaja ditanam oleh warga sebagai bahan baku unuk pembuatan minyak wangi dan bahan baku obat-obatan herbal. Akar wangi ditanam secara luas dan besar oleh warga sehingga bukit tampak seperti sabana rerumputan dan ilalang. Selepas setengah jam disajikan pemandangan luas, perjalanan mulai memasuki hutan dengan pepohonan tinggi yang menghalangi pandangan mata melihat lebih luas. Pepohonan ini terus menutupi perjalanan hingga tiba di puncak nanti.

Medan pendakian adalah tanjakan dengan tanah dan akar pepohonan yang menyeruak. Setelah sekian lama saya tidak pernah beraktifitas di alam terbuka, khususnya mendaki gunung, pendakian Cikuray ini sungguh menyita banyak tenaga. Nafas terasa sesak dan “ngos-ngosan” setidaknya bukan hanya saya, Gejor juga mengalami hal yang serupa. Sepanjang perjalanan beberapa kali kami berhenti untuk mengambil nafas dan menikmati alam Cikuray sembari berbagi cerita. Tidak terasa hari mulai gelap walau perjalanan yang saya targetkan hari itu masih belum tercapai saya putuskan untuk bermalam lebih awal. Dengan tugas masing-masing 2 jam kemudian tenda dan api unggun kecil sudah jadi dan kegiatan masak-memasak dimulai. Malam itu purnama bersinar terang, malam tidak segelap biasanya, tiupan angin gunung dan suara dedaunan menambah indah malam di Cikuray. Semakin malam semakin dingin hinga kami semua terlelap tertidur nyenyak di dalam tenda.

Pagi hari matahari menyapa cerah dari balik rerimbunan pepohonan. Sarapan sehat dan minum air hangat sangat penting karena hari ini kami akan melanjutkan perjalanan langsung ke puncak. Dalam perjalanan ke puncak tampak beberapa pendaki yang sedang dalam perjalanan turun, diantara mereka ada yang melakukan perjalanan malam hari untuk mengejar sunrise di puncak Cikuray. Kami tidak melakukan itu, kami lebih memilih berjalan santai di siang hari dan mentargetkan iba di puncak tengah hari sehingga perjalanan lebih terasa santai. Ada 7 pos yang harus dilewati sebelum mencapai puncak Cikuray. Pos ini lebih terlihat seperti tempat lega untuk beristirahat tanpa ada bangunan khusus, hanya ada sebuah plang nama dan penunjuk arah kecil.

Perjalanan Menuju Puncak Cikuray

Sesuai rencana, tepat tengah hari kami tiba di puncak Cikuray di ketinggian 2821 mdpl. Gunung ini memang kalah tinggi dibandingkan dengan gunung di Jawa Barat lainnya seperti Ciremai, Papandayan dan Gede Panggrango namun ini bukan masalah untuk menikmati keindahan alam dan mensyukurinya. Siang itu matahari tepat berada di atas kepala kami, terik dan menyengat, hanya saat kabut dan awan melintas udara menjadi teduh karena di puncak Cikuray tidak terdapat pepohonan lebat. Dari atas puncak tidak banyak yang bisa kami lihat, pandangan mata terhalang kabut putih di sekeliling puncakan. Seandainya tidak terhalang kabut dari puncak Cikuray akan terlihat 5 puncakan lain yang tersebar di sekeliling Garut. Gunung Papandayan, Guntur dan Galunggung akan terlihat menjulang. Tidak salah lagi mengapa di logo daerah kabupaten Garu terdapat gambar 5 puncakan karena memang kota Garut di kelilingi oleh Gunung. Gunung yang mengelilingi kota Garut menjadikan kota terasa sejuk dan memiliki berbagai wana wisata alam yang indah.

Setelah puas menikmati pemandangan di puncak Cikuray, kami pun bergegas turun dengan jalur yang sama. Menurut beberapa sumber untuk mencapai puncak Cikuray dapat ditempuh dari beberapa jalur, namun hanya jalur Dayeuh Manggung yang direkomendasikan. Perjalan turun terasa lebih cepat karena beban tas sudah sedikit lebih ringan dan karena yang dihadapi adalah turunan. Tetap saja kami sering melepas lelah di jalan untuk mengambil nafas dan mengistirahatkan lutut dan persendian sambil berbagi makanan ringan. Pukul 5 sore kami telah tiba di pos pemancar. Di sini sudah banyak berkumpul para pendaki gunung yang telah dan yang akan melakukan pendakian, diantaranya masih bersantai-santai menunggu truk jemputan ada pula yang tengah bersiap-siap mendaki. Para pendaki berdatangan dari berbagai daerah sekitar Jawa Barat, dari Jakarta, Bandung, Tasikmalaya, Cianjur dan tentunya warga Garut.

Di Puncak Cikuray (Dok. Gejor)

Menurut cerita penjaga pos pendakian, Cikuray banyak dikunjungi pada akhir pekan, hari libur dan malam tahun baru. Pada malam tahun baru 2013 lalu, jumlah pendaki melonjak drastis hampir 4 kali lipat dari hari biasa untuk merayakan penyambutan tahun baru di puncak Cikuray. Muda-mudi, mahasiswa, pelajar bahkan beberapa kali Cikuray dikunjungi oleh pendaki yang berasal dari luar negeri. Tentu saja dengan pemeliharaan dan perawatan yang lebih tertata, Cikuray akan menarik jumlah pengunjung dalam jumlah yang lebih besar. Pengunjung meningkat yang juga akan meningkatkan pendapatan asli daerah.

Cikuray memang tidak setinggi dan setenar gunung lainnya di Jawa Barat, namun terlalu “mainstream” jika melihat gunung hanya dari titik ketinggian. Keindahan sebuah gunung dan alam lainnya tidak bisa diukur dari ukuran besar, kecil, luas, sempit, dan tinggi saja tapi bagaimana menikmati dan mensyukurinya adalah titik tertinggi dari menikmati alam. Saya pernah mendengar bahwa cara terbaik untuk menikmati adalah tetap menjaga keaslian dan tidak merusaknya itu sudah cukup. Jika saja Cikuray dan gunung-gunung lain di Garut tidak dijaga dan dipelihara, mustahil kelak akan ada lagi bintang sehebat Charlie Chaplin yang segaja mampir ke Swiss van Java untuk menikmati pemandangan alam Garut yang katanya seindah Swiss di Eropa sana. Walaupun saat di puncak saya tidak dapat melempar jauh pandangan ke semua arah karena terhalang kabut tapi Cikuray pantas dikunjungi.

About isackfarady

drink water
This entry was posted in Journey. Bookmark the permalink.

3 Responses to Menikmati Pesona Cikuray

  1. nolsatugr says:

    ngosh-ngoshan nih bro…😀
    banyak2 latian lagi deh.. hahaha😛

  2. widdha says:

    di poto ketiga,,,yg baju abu2 ampe pegang perut gituuuu :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s