Mengenang Sang Johan Pahlawan (1)


Sosoknya begitu melegenda, besar dan sangat dikenal luas baik secara nama maupun sebagai identitas kedaerahan. Diabadikan sebagai nama jalan utama di banyak kota di Indonesia serta menjadi ulasan sejarah perjuangan kemerdekaan di buku-buku sejarah.

Rasa ingin lebih mengenal dan mengingat nama besar tersebut itulah saya sebagai putra asli kelahiran Teuku Umar ingin menelusuri potongan kisah kebesaran tokoh pahlawan yang diberi gelar Johan Pahlawan tersebut. Kisah tentang kebesaran Teuku Umar sudah saya dengar sejak kecil. Masa kanak-kanak saya sering diajak bermain ke salah satu tugu penting di pinggir pantai yang di kenal dengan tugu Teuku Umar. Tugu itu dijadikan sebagai tugu peringatan lokasi tertembaknya Teuku Umar saat pertempuran dengan Belanda yang dipimpin oleh Van Der Dussen pada tahun 1899. Secara fisik yang saya ingat dari tugu tersebut hanya cat serba putih dan corak berwarna khas kopiah ‘Meukutob’ kebanggan bangsa Aceh. Posisinya sangat menarik perhatian karena berada persis di tepi laut pantai Batee Puteh. Saat sore hari banyak keluarga yang menghabiskan waktu bersama keluarga di sekitar tugu sambil menikmati keindahan samudera Hindia.

Tugu ini menyimpan cerita sejarah penting namun kurang mendapat perhatian dan terlantar

Sejak bencana Tsunami akhir tahun 2004 yang meluluh lantakkan kota Meulaboh, tugu bersejarah itu lenyap ditelan ganasnya ombak. Semua cerita tentang titik terakhir nafas Teuku Umar hilang menguap seketika. Hingga berselang beberapa kemudian saat suasana recovery, Pemerintah Daerah Aceh Barat mulai merenovasi tempat bersejarah tersebut. Sebuah tugu dengan ukuran lebih besar dibangun namun posisi bergeser dari lokasi yang sebelumnya. Tugu yang dulu saya kenal yang telah semakin mendekat ke bibir pantai dan kini sudah tidak bisa diakses. Lokasi tugu baru itu di bangun dengan lebih terencana, lebih besar dan lebih mapan dari segi bentuk dan ukuran. Sebuah bagunan berbentuk kopiah “meukutop” atau kopiah khas Teuku Umar dengan corak dan warna yang khas dibangun. Terdapat fasilitas umum seperti toilet dan lahan parkir untuk pengunjung. Usaha ini patut diapresiasi karena telah menjadikan tempat ini sebagai salah satu titik wisata sejarah.

Beberapa tahun berselang, tugu ini saya kunjungi kembali. Kini keadaan sudah jauh berbeda, kondisi bangunan tidak terawat, seperti rumah tidak berpenghuni. Bukan hanya karena tidak adanya pagar yang mencegah masuknya hewan ternak ke dalam tugu untuk memakan rumput, namun juga karena kondisi cuaca yang tidak bersahabat. Teriknya sinar matahari yang panas membuat uap air asin yang berasal dari laut menggerus cat dan kondisi bangunan secara perlahan. Kondisi ini sungguh menyedihkan, tugu ini seperti rumah ditinggal penghuninya, rusak tidak terawat. Jumlah pengunjung tidak dapat saya hitung pasti namun saat sore hari masih ada yang tetap bermain dan berkunjung ke tempati ini walau hanya hitungan jari. Dengan kondisi yang semakin tidak terawat membuat banyak cat yang mengelupas, pintu kayu toilet lapuk terkena hujan dan rumput taman menjadi liar sehingga mengundang ternak untuk masuk. Jika kondisi seperti ini dibiarkan, saya yakin jika 5 tahun ke depan tugu ini hanya menjadi bangunan rusak di pinggir jalan.

Pemerintah daerah Aceh Barat terlihat masih enggan untuk merawat tempat ini sebagai potensi wisata sejarah kota yang melambangkan kebanggan masa lalu. Untuk ukuran sebuah tugu, tempat ini masih kurang memberikan rasa bangga akan sejarah masa lalu karena yang terlihat ditonjolkan hanya ukuran yang besar sementara untuk rasa bangga tidak tergambarkan. Tidak adanya tanda masuk dan catatan yang menceritakan sesuatu kisah di balik tujuan tugu tersebut dibangun. Saya rasa, kalau tidak ada orang tua yang menjelaskan cerita dibalik tugu tersebut, maka tidak akan ada yang tahu tujuan tugu tersebut. Meskipun tidak lagi berdiri pada titik yang seharusnya ada beberapa catatan yang menjelaskan fungsi, tujuan, dan arti tugu tersebut. Selain sebagai bahan pelurusan sejarah karena pergeseran lokasi juga sebagai penyampaian pesan heroik bangsa Aceh. Setidaknya, tugu ini dapat dijadikan sebagai tugu untuk memperingati peran perjuangan untuk generasi muda agar tetap mengenal sejarah dan masa lalu dan lebih mengenal tokoh kedaerahan secara lebih dekat.

About isackfarady

drink water
This entry was posted in Journey, Opinion. Bookmark the permalink.

3 Responses to Mengenang Sang Johan Pahlawan (1)

  1. familuphz says:

    Di Aceh memang banyak cerita sejarah yang sengaja ditenggelamkan… untuk apa? Taulah..
    Btw,, tu tempat maen aq pas SD..😀

    • isackfarady says:

      Betul… Banyak cerita yang terlewat,tidak banyak yang berminat padahal bisa jadi aset bagus itu. Tunggu aku balik kesana, pasti jadi bagus deh hehehe
      Kalau jadi tempat main semua pernah main kesana (dulu) hahaha

  2. familuphz says:

    Bukan ngga banyak peminat bang, tapi sengaja ditutup2i makanya kita jadi buta cerita perjuangan dan sejarah aceh,
    Sebagian situs sejarah yang sensitif sengaja dibenamkan, karena bisa memicu hal yg tidak diinginkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s