Mengenang Sang Johan Pahlawan (2)


Ada satu tempat lagi di Aceh Barat yang membawa saya lebih dekat lagi dengan sejarah Teuku Umar. Tempat yang satu ini sepertinya lebih mendapat perhatian orang banyak. Di tempat inilah Teuku Umar di kebumikan dan sudah dikeramatkan oleh warga setempat serta dijadikan sebagai objek wisata utama oleh Pemerintah Daerah. Makam Teuku Umar ini terletak di Gampong Mugo Rayeuk, berjarak 60 km dari kota meulaboh. Oleh masyarakat sekitar tempat ini dianggap sakral dan kerap dijadikan sebagai tempat ini sebagai perayaan kegiatan kedaerahan atau sekedar syukuran atas sesuatu yang diperoleh. Tidak mengherankan kalau tempat ini menjadi ramai dan disesaki warga pada tanggal tertentu seperti pelepasan nazar, peringatan Maulid Nabi, tahun baru Hijriah, syukuran hari raya hingga doa bersama tokoh politik daerah. Tempat ini telah menjadi tempat yang wajib dikunjungi warga Meulaboh.

Lapangan di depan makam Teuku Umar diantara rimbunan pohon

Perjalanan Meulaboh – Tutut dapat ditempuh dalam waktu satu jam perjalanan dengan kendaraan pribadi. Begitu memasuki lokasi, suasana rimbun pepohonan besar dan suara burung menyambut kedatangan pengunjung. Tampak dari kejauhan perkebunan sawit dan karet berbaris rapi diantara hutan belantara di kejauhan. Entah berapa lama lagi ekspansi perkebunan tersebut mencapai garis hutan ini mengingat pelebaran lahan perkebunan terus terjadi. Pemerintah daerah telah sadar bahwa tempat ini dapat dijadikan sebagai aset potensi daerah, wisata dan sejarah. Hal ini terlihat dari mulai dilakukan pembenahan fasilitas umum seperti lahan parkir, jalur pejalan kaki dan beberapa bangunan pendukung di areal tersebut. Menurut cerita, tempat ini pernah dijadikan ajang dan lahan kampanye seorang calon pemimpin daerah tersebut untuk meraup perhatian warga. Entah karena mengambil hati warga atau untuk tujuan yang berbau mistis dan kesakralan tempat tersebut dijadikan alasannya. Saya sudah dari kecil ingin mengunjungi tempat ini, namun saat itu belum dilakukan pemugaran. Sebelum dibuka untuk umum dan dijadikan objek wisata, tempat ini sangat susah untuk diakses karena selain alasan keamanan juga masalah akses jalur darat yang sangat sulit karena terletak di lahan gunung dan berbukit. Saat situasi konflik bersenjata melanda Aceh akhir 90-an, tempat ini sempat menjadi daerah rawan konflik bersenjata dan militer. Hal tersebut menjadikan ingatan pada tempat ini menghilang karena kondisi keamanan memburuk.

Kini konflik telah berakhir dan kondisi keamanan membaik membuat roda perekonomian ikut menguat seiring itu pula makam Teuku Umar menjadi sebuah objek wisata unggulan. Pembagunan beberapa bangunan khas Aceh di dalam areal makam menjadikan suasana semakin teduh dan khidmat. Disediakan sebuah mushalla dengan aliran sungai kecil dan suasana hutan yang teduh membuat tempat ini semakin menarik untuk dikunjungi. Makam Teuku Umar sendiri tampak seperti makam pada umumnya, hanya sedikit pemugaran yang dilakukan. Makam diberi bangunan khusus untuk menjaga kondisi tanah agar tetap untuh dan dipasang atap dan pagar untuk memastikan kondisi aman tidak dirusak. Di dekat makam tersebut disediakan sebuah lapangan berukuran setengah lapangan sepak bola yang kerap dijadikan lapangan upacara saat perayaan 17 Agustus dan hari penting lainnya.

Sangat jelas bahwa tempat ini harus dimaksimalkan sebagai tempat wisata sejarah yang dapat dijadikan nilai tambah dari sebuah tempat keramat. Makam ini dapat dijadikan ikon sejarah yang sebenarnya dari kota Meulaboh. Menurut yang saya lihat para pengunjung lebih banyak datang ke lokasi ini untuk memanfaatkan sebagai tempat keramat dibanding sebagai tempat untuk mengenal sosok yang telah berjuang dan cerita sejarah di baliknya. Bukankah pemanfaatan tempat ini akan lebih berarti jika digunakan sebagai tempat untuk mengenal dan memaknai perjuangan pahlawan dari pada hanya sekedar memaknai dengan cara keramat? Tempat ini seharusnya dapat dijadikan sebagai tempat wisata sejarah yang bermanfaat untuk pengantar pesan sejarah dan kenangan perjuangan bangsa Aceh bagi generasi muda Aceh.

Meulaboh, September 2013

About isackfarady

drink water
This entry was posted in Journey, Opinion. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s