Kita Butuh Televisi Baru


Ada banyak alasan orang untuk menonton televisi dalam kesehariannya. Televisi seakan sudah menjadi kebutuhan utama yang tidak tergantikan saat ini. Ketergantungan kita terhadap benda ini sudah mengakar bahkan bisa disebut membudaya. Menonton televisi kian akrab dan mulai mengambil alih perhatian masyarakat kita khususnya di desa-desa nan terpencil di pelosok. Televisi menjadi satu-satunya media penghubung global terhadap apa yang terjadi di luar sana. Kehidupan kota, berita presiden, harga bahan makanan, informasi politik, seni hinga informasi teknologi terbaru di ujung dunia tersiar dan diserap masyarakat kita.

Teriakan sepak bola riuh dari warung kopi atau balai desa saat gol dilesakkan pemain disiarkan langsung dari televisi. Ibu-ibu bisa belajar memasak, anak kecil bisa bernyayi dan bapak-bapak bisa memantau perkembangan politik dalam dan luar negeri dari televisi. Banyaknya informasi baru yang diterima membuka mata kita. Tak dapat dipungkiri bahwa televisi memberi masukan lain yang berarti dalam kehidupan, memberi pengetahuan baru, informasi baru, memberi cara baru memandang sesuatu. Saya rasa sejak itulah televisi menjadi magnet kebutuhan hidup kita yang utama setelah listrik. Saya rasa perangkat elektronik pertama dibeli setelah listrik adalah televisi. Era radio pun mulai tergantikan sejak munculnya televisi, saat ini internet juga akan menggusur televisi konvensional.

Televisi sangat mengakar di mata, telinga dan pikiran kita sehingga ia menjadi sarana terbaik untuk menyampaikan informasi yang ‘menusuk’ ke pemirsa. Sebuah kebiasaan baru terbentuk, sebuah pandangan akan sesuatu berubah, persepsi akan sesuatu goyah, banyak ilmu bertambah dan pengetahuan bertambah. Semua pertambahan nilai ini merubah pola dan tingkah masyarakat, masyarakat punya sebuah cermin terhadap sesuatu yang dilakukan untuk pembanding. Semakin lama semakin akrab dan mengakar yang kemudian terbentuklah kebiasaan yang berlanjut hingga menjadi budaya. Mungkin inilah yang kita kenal budaya menonton. Budaya yang muncul dengan sendirinya, tidak ada yang dipaksakan, semua atas kehendak masyarakat. Kita tidak bisa menolak perubaha budaya menonton televisi hanya karena televisi membuat lupa waktu, membuat kebiasaan pengajian di kampung-kampung bergeser dan perubahan hal lain sebelum televisi hadir di tengah masyarakat.

Begitu akrabnya kita dengan televisi membuat kita mudah terpengaruh dan menjadikan televisi sebagai rujukan akan sesuatu yang dipertentangkan. Begitu mengakarnya manfaat dari televisi membuat televisi menjadi media paling efektif dalam menyampaikan pesan dan informasi ke khalayak. Penyebaran informasi menjadi merata dan menyebar luas. Mungkin jika koran dan selebaran adalah media untuk propaganda jaman pergerakan maka kini televisi menjadi pilihan terbaik. Bahkan kini cenderung bergerak ke media internet. Jika dibandingkan dengan internet saya rasa televisi masih bisa menyentuh berbagai kalangan bawah karena internet masih memiliki batasan akses.

Melihat daya serap informasi melalui televisi begitu tinggi, harusnya pemangku jawatan televisi harus sangat jeli melihat hal ini. Televisi bisa dijadikan senjata dalam mendidik, mendikte mengajarkan sesuatu kepada masyarakat luas. Bisa dibilang, apa yang disajikan televisi itulah yang akan membentuk masyarakat kita. Percayalah, jika kita bisa memaksakan sesuatu yang baik, masyarakat tidak mampu melawan dan akan mengikuti ‘arahan’ televisi.

Potret televisi kita sekarang

Mari kita lihat konten televisi kita saat ini dari segi konten, cara penyajian, waktu penyiaran dan kontrol atas isi informasi. Ada banyak pihak yang terlibat dalam industri ini, berbagai kepentingan masuk di dalamnya. Semua faktor dan kepentingan ikut mempengaruhi arah pertelevisian kita. Ada pihak yang menyayangkan atas konten yang ada di televisi kita yang isinya mempertontonkan hal yang tidak mendidik, mutunya dipertanyakan. Sementara ada pihak lain yang memilih setia dengan televisi karena acaranya masih “masuk” sebagai hiburan di kala kondisi di luar televisi semakin tidak teratur.

Saya termasuk pihak yang pertama yang menyayangkan tentang konten televisi yang semakin tidak sedap dilihat. Kita diberi siaran ratis yang mau tidak mau jika saya punya televisi saya dipastikan dapat menonton acara tersebut tanpa banyak alternatif pilihan yang berbeda jenis. Isi siaran televisi menurut saya banyak yang tidak indah dalam artian isi untuk mendidik dan memberi nilai tambah. Tontonan yang disajikan cenderung tidak sesuai dengan nilai keberagaman, lintas usia, dan pengaturan waktu. Sebagai contoh adalah siaran tentang cerita keagamaan yang terlalu dibuat-buat. Saya sebagai muslim sering berfikir apakah kehidupan keluarga muslim yang dicitrakan di televisi sejujur dan sekaku ini. Semua kejahatan dan kebaikan yang ditampilkan bagai hitam dan putih dan pihak yang benar selalu sedih dan tersiksa secara berlebihan sehingga terlihat tidak nyata dan mengada-ada. Lain soal tentang tontonan yang tidak mengenal usia, anak kecil diberikan tontonan yang tidak sesuai dengan daya tangkap dan daya khayal anak-anak. Setiap jam produktif acara televisi lebih banyak menyiarkan acara hiburan yang mengajak serta anak-anak dengan pembawa acara orang dewasa dan membicarakan perihal hal orang dewasa. Anak kecil sering terlihat dibimbing untuk melakukan hal konyol dan lucu yang dipaksakan. Tidak jarang acara hiburan diisi dengan orang dewasa yang berpaikan tidak seronok dan cenderung mengumbar aurat.

Tentu hal ini yang dilihat dan akan diserap oleh anak-anak. Gambaran tersebut akan masuk ke daya hayal anak-anak bahwa penyanyi itu tergambar sebagai sosok yang berlenggak lenggok dengan pinggulyang bergoyang dan pakaian yang minim. Pelawak adalah orang yang bisa membuat orang lain tertawa dengan menaburi muka orang lain dengan tepung, menendang teman yang sedang berjalan dan membuat hinaan menjadi sebuah lelucon. Ini tentu menyedihkan, di saat kita tengah gencar mendidik calon pengganti masa depan negara ini agar lebih baik. Kontradiksi antara visi dan misi pembangunan mental warga negara. Jangan harap wajib militer bisa membuat warga semakin cinta dan mempunyai jiwa pemberani dan nasionalis jika setiap hari yang ditonton sejak kecil adalah banci dan wanita seksi menari di depan mata.

Untuk pihak yang setuju dan cenderung suka dengan tontonan ini tentu tidak dapat disalahkan dan disudutkan begitu saja. Ada hal yang bisa ikut dipertimbangkan dari alasan mereka menerima hal tersebut. Terbatasnya pilihan hiburan sebagai pelarian dari acara semacam berita politik dan ekonomi yang semakin ruwet menjadikan hiburan dadakan tersebut menjadi laku. Dibandingkan melihat atraksi politik yang semakin memuakkan dan kurangnya acara yang menenangkan pikiran sehingga cenderung memilih acara hiburan yang ada di depan mata. Bahkan untuk menonton beita yang aktual saja penonton harus jeli melihat sumber karena kini media sudah tidak bersifat netral cenderung mengarah dan melihat dari satu sudut karena media sudah dikuasai oleh penguasa dan pengusaha yang punya berbagai kepentingan.

Semua memang ada ditangan kita untuk memilih program televisi mana yang kita tonton. Namun andai saja pemerintah lebih tegas dan mendetail mengatur tentang pertelevisian tentu kenyataan akan berkata lain. Hendaknya pemerintah menjadi penengah berbagai pihak yang memiliki kepentingan dan terlibat dalam industri pertelevisian. Pemerintah memangku peran penting dalam hal kebijakan melindungi warga dari serangan tayangan yang tidak bermutu dan tidak mendidik. Lembaga sensor harusnya diberi keleluasaan dalam menyeleksi dan selktif menerima masukan dari pihak manapun. Usaha pemerintah atas pemantauan isi acara sudah terlihat namun hasilnya tidak maksimal dalam hal pelarangan. Masih banyak acara yang sudah berulang kali diprotes masih tetap tayang. Usaha untuk memberantas terlihat seperti serangan dadakan, hanya menyerang satu titik bukan menyerang ke akar permasalahan.

Dunia pertelevisian akan mencapai titik jenuh andai tidak segera dibenahi. Penting untuk menyadari masyarakat bahwa naga yang bisa menyemburkan api itu hanya dongeng, bahwa ibu tiri tidak selalu jahat, orang baik itu tidak semua miskin dan sakit-sakitan, bahwa cara memperkosa, hamil dan keguguran bukan hal yang biasa di kehidupan anak-anak, bahwa menghina itu tidak lucu, bahwa gagal ujian dan sakit lebih baik gantung diri itu salah, bahwa bergosip itu tidak baik, bahwa penyanyi itu bernyanyi bukan lip-sync, bahwa cerai itu tidak perlu dibesar-besarkan.

Kita perlu sebuah hiburan yang lebih dekat dengan kenyataan dan kehidupan kita saat ini. Sesuatu yang bisa membuat kita lebih dekat dengan keluarga dan humanis. Mengapa tidak memperlihatkan kehidupan keluarga yang harmonis, bentangan alam Indonesia yang indah, sesuatu yang menginspirasi, tokoh panutan, sebuah usaha yang tidak instant dan hal-hal sederhana lainnya. Masih banyak hal yang bisa ditampilkan jika pengusaha dan pelaku bisnis tidak hanya mengejar ‘rating’ dan meraup keuntungan sebesar-besarnya dari program yang dikemas dengan seadanya dengan mengganjilkan mutu dan kualitas. Tentu kita tidak ingin televisi swasta nasional menjadi barang yang haram ditonton dan tidak akan menonton televisi nasional karena isinya tidak bermutu. Pemerintah dapat menstimulus pengusaha untuk memberikan isi program yang sesuai dan tidak melupakan makna dari televisi itu sendiri. Semoga dunia pertelevisian Indonesia semakin membaik di tangan pemerintah yang baru.

 Jakarta, 24 Juni 2014

About isackfarady

drink water
This entry was posted in Opinion. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s