Bukan Maling Teriak Maling


Palang dilarang bersuara yang rusak di kampus IT Telkom. (Foto oleh Achmad Rizal)

Palang dilarang bersuara yang rusak di kampus IT Telkom. (Foto oleh Achmad Rizal)

Teman, tidakkah kita gelisah dengan isi berita di media siar maupun media cetak dewasa ini. Setiap hari memperlihatkan unjuk sifat tidak menyukai sesuatu yang nyaris tanpa solusi. Sebagian dari kita memprotes tentang mahalnya biaya kesehatan namun kita lupa untuk menjaga kesehatan. Kita sering memprotes tentang kekacauan lalu lintas tanpa ikut mendukung program pengentasan permasalahan. Terkadang kita lupa berkaca, kita sering memprotes lambannya penanganan permasalahan kemacetan oleh pemerintah dari dalam sebuah sedan ber-AC di tengah kemacetan. Kita terus memprotes bahaya global warming dan isu lingkungan lainnya tapi lupa berkaca bahwa listrik dan energi di lingkungan dibuang sia-sia. Lebih aneh lagi adalah memprotes lokalisasi tapi membiarkan VCD porno di pinggir jalan dan di televisi bisa dinikmati oleh anak SD sekalipun. Semua gugatan baik itu untuk kepentingan bersama maupun untuk kepentingan pribadi. Jika tidak atau lupa bercermin terlebih dahulu maka akan sama saja seperti pengendara motor di jalur busway memarahi Metro Mini yang juga masuk jalur busway.

Teman, saya teringat akan protes-protes atau lebih mirip unek-unek saya tentang habisnya hutan-hutan di Kalimantan, Sumatera dan di Aceh. Banyak dijadikan perkebunan sawit atau kayunya habis dibabat adalah tidak sepenuhnya “fair“. Jangan-jangan saya juga ikut membuka lahan secara tidak langsung dari apa yang saya lakukan di kota saat ini. Bayangkan berapa banyak sabun, minyak goreng, kertas dan bahan olahan yang semuanya berasal dari tanaman sawit dan kayu di hutan Kalimantan yang masih kita hambur-hamburkan? Masih bijakkah kalau cuma bisa memprotes hilangnya hutan sementara kita tidak bisa berhemat dalam menggunakan barang yang berasal dari olahan minyak sawit. Jangan sampai kita lupa diri untuk bercermin atas tindakan kita sambil tetap berteriak. Saya teringat sebuah kisah artis dunia yang menyumbang dana untuk korban kekejaman perang saudara di Afrika sambil mengenakan kalung bermahkota “Blood Diamond” yang berasal dari negara tersebut. Ironis memang, hasil alam yang berharga tinggi dan diminati dunia itulah yang membuat perpecahan dan perebutan kekuasaan di beberapa negara Afrika. Hasil penjualan berlian tersebut dijadikan untuk membeli senjata dari negara maju. Ironis sekali.

Ini pengalaman pribadi, beberapa waktu yang lalu di Banda Aceh, saya melihat langsung seorang wanita cantik warga asli Aceh mencari sebuah rencong. Rencong dengan pegangan bilah dan sarung rencong yang terbuat dari gading gajah asli memang lebih indah dibanding lapis kayu. Itu sangat mengetuk hati saya disaat dalam beberapa bulan terakhir isu tentang matinya beberapa ekor gajah tanpa gading menyita perhatian pemerhati lingkungan. Jangan-jangan musuh yang harus diberantas oleh pemerhati lingkungan bukan pemburu gajah atau harimau sumatera tapi pemburu gading gajah yaitu para kolektor yang menganggap benda hidup yang dimatikan adalah benda seni. Sama halnya seperti musuhnya prostitusi bukan saja para PSK tapi para pria hidung belang.

Tapi teman kita tidak sendiri, pemerintah dan pihak terkait juga setengah hati dalam hal memediasi semua kegelisahan ini. Pemerintah seperti menulis “Dilarang Makan” pada seikat rumput yang diletakkan di depan kambing kelaparan. Usaha setengah-setengah -bahkan tidak sampai setengah rasanya- karena masih mengandalkan keberuntungan dari hal larang-melarang. Beruntung jika bisa membaca dan sadar lalu berhenti. Kadang kita ini tidak bedanya seperti (maaf) kambing di depan seikat rumput yang tadi.

Teman, mungkin kita tidak bisa menghindari habisnya hutan di Kalimantan karena memang kayu dibutuhkan dalam banyak hal dan sendi kehidupan. Kertas setiap hari kita pakai sebagai media dokumentasi dan sabun mandi masih menjadi alat pembersih kuman yang efektif untuk saat ini. Namun yang pasti kita bisa memperlambat bahkan mengurangi laju perambatan tersebut dengan menjadi bijak dalam banyak hal. Tidak perlu membuang-buang kertas, plastik, dan semua bahan olahan. Cukup bahan-bahan berkenaan dengan medis dan kondom tentu saja yang sekali pakai buang itu pun harus ditempat yang benar. Lebih dari itu cobalah untuk menggunakan lebih dari sekali jika tidak terlalu terpaksa. Kita tidak mungkin bisa tetap kering di tengah hujan deras tapi kita bisa membuat sebuah atap untuk berteduh bukan? Tulisan ini bukan untuk memojokkan atau mengingatkan teman sekalian, ini justru untuk bahan cerminan bagi saya tentang unek-unek selama ini. Salut untuk semua teman-teman yang masih konsisten untuk saling mengingatkan, tetap memprotes, unjuk rasa dan berdemonstrasi untuk kebaikan kita semua semoga juga diikuti dengan tindakan bijak kita semua. Semua ini terjadi karena selintas pemikiran pribadi.

Jakarta, Agustus 2014

About isackfarady

drink water
This entry was posted in Opinion. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s