Cerita dari Timur Jauh – 2


Kisah dan harapan si Weah

Bermula dari saling sapa di warung makan, kami berkenalan dengan seorang pria perawakan khas timur Indonesia. Terangnya matahari tak membuatnya tampak lebih putih, kulitnya tetap hitam legam. Persis seperti yang saya bayangkan tentang pemain bola asal afrika Demba Ba atau GeorgeWeah. Rambut keriting dengan potongan cepak ala tentara. Sementara saya larut dalam santap siang, saat perjalanan pulang seorang teman bercerita bahwa dia telah membuat janji esok akan mengajak kita berkeliling melihat indahnya Merauke dan berkenalan dengan orang Papua. Terdengar menarik bisa berkenalan langsung dengan warga sekitar dan ditemani oleh penduduk asli. Saya memendam rasa curiga karena mendengar selentingan cerita kerabat agar berhati-hati dengan pemuda atau orang yang baru dikenal karena bisa jadi itu adalah modus penipuan yang sering dilakukankepada pendatang atau wisatawan. Tetapi kali ini berbeda, saya lebih ingin untuk ikut untuk melihat kota dan berkenalan dengan warga sekitar. Sepertinya saya berlebihan tentang hal ini.

Saya panggil dia Weah tentu saja itu bukan nama aslinya. Saya lebih suka memanggilnya Weah dan dia suka dengan panggilan tersebut. Entah mengapa saya memanggilnya Weah mungkin nama itu mengingatkan saya bahwa orang kulit hitam seperti ini pastilah jago bermain sepak bola. Rasanya itu tebakan logika saya saja, orang kulit hitam biasanya memiliki fisik lebih kuat dibanding warna kulit lain. Pemuda berkulit hitam ini mengingatkan saya pada George Weah pemain bola asal Liberia era 2000an yang sempat menjadi bintang di AC Milan.

Perawakan si Weah ini tidak terlalu besar namun kekar berotot. Untuk pemuda seumurannya tubuh ini seperti memberi tanda bahwa dia adalah pekerja keras dan sering angkat beban. Tentu saja saya bertanya apa dia suka bermain bola atau minimal futsal di sini. Dia menjawab terkadang saja bermain futsal dengan teman sekampus. Bicara tentang sepakbola kebanggaanya ada pada Persipura, tim kebanggan kami dari timur Indonesia. Kegemarannya terhadap sepakbola memang terlihat dari awal perjalanan kami melihat kota Merauke. Tempat pertama yang dibawa adalah tempat yang nantinya menjadi kebanggan warga khususnya pemuda Merauke, Stadion Katalpal. Stadion ini akan menjadi stadion termegah di Indonesia timur. Sepanjang jalan dia bercerita dengan bangga tentang stadion yang belum rampung dibangun ini. Cerita tentang mimpi saat stadion sudah rampung akan ada pertandingan besar di sini. “Kami tak perlu melihat Persipura main di televisi, atau nanti tim sepakbola Persimer Merauke akan bermain di sini”. Anak-anak kecil tidak perlu meminjam pekarangan dan landasan bandara Mopah untuk sekedar bermain bola. Jika sudah rampung akan banyak pemuda aktif berolahraga di sini. Akan banyak toko, warung dan kegiatan masyarakat di sini. Bisa jadi sepak bola akan menjadi cita-cita pemuda disini seiring aktifnya kegiatan dan geliat olahraga stadion ini. Kenyataan kini lapangan belumlah rampung, gabai jauh panggang dari arang.dari luar pagar terlihat bagunan erkunci di gerbang masuk. Di sekitar bangunan stadion hanya ada ternak dan anjing liar berlarian.

Sepertinya Weah harus menahan mimpinya untuk melihat tim sepakbola kebanggaannya bermain di stadion ini. Tatapannya hampa saat melihat dinding stadion sudah mulai banyak coretan dan rumput liar tumbuh dengan rimbun. Tatapan itu juga terlihat pada ibu-ibu penjual daging rusa dan pinang di seberang jalan yang mungkin mengharapkan stadion ini cepat rampung sehingga bisa berjualan keperluan atau mungkin souvenir pertandingan saat Persipura atau tim besar lain bertandang ke Merauke. Di tengah obrolan akhirnya dia tahu bahwa saya dari Aceh. Betapa kagetnya dia akan bertemu dengan orang paling barat Indonesia di paling timur Indonesia. Di depan Stadion dia hanya berkata, Aceh dulu punya Persiraja yang bermain di liga Indonesia namun sekarang tidak tahu nasibnya. Dengan rasa malu dalam hati saya bergumam, orang Merauke mengenal Persiraja, saya bahkan tidak tahu Persiraja sekarang main di liga atau divisi apa, atau entah masih bermain bola.

Setelah berkeliling kota Merauke yang memang tidak terlalu luas perjalanan kami berujung di pantai Lampu Satu. Ini adalah pantai yang unik menurut saya. Pantai ini terlihat seperti pasar rakyat di mata saya. Saat air laut surut di sepanjang garis pantai ini disesaki dengan pedagang dan pembeli yang saling berebut berjualan. Bermacam ragam barang dan makanan yang umumnya saya lihat di tanah jawa. Mulai dari mie ayam, sate, bakso malang, batagor hingga cilok ada di sini. Saya tidak melihat dagangan olahan sagu atau makanan asli di sini. Warga yang berada disini pun beragam. Wanita berkerudung tidak kalah banyak dengan wanita berambut tergerai. Bahasa yang saya dengar juga dominan logat Makassar dan Ambon. Teman lama yang sudah menetap di sini mengatakan memang pendatang banyak yang berasal dari bugis dan Makassar serta Maluku. Pendatang dari jawa juga tidak kalah banyak, Ponorogo, Treggalek, bahkan Garut saya temui disini. Saat saya tanya alasan pindah ke Merauke jawaban mereka semua hampir sama, di sini gampang membuka lapangan pekerjaan. Dari orang Garut saja saya ketahui bahwa dari hasil menjual gorengan saja saya sudah bisa menghidupi keluarga. Semua yang dijual di Merauke pasti laku keras dan saingan tidak sebanyak di tanah asal begitu menurut padagang tersebut.

Percakapan dengan warga Garut yang sudah lebih dari 12 tahun berpindah KTP ini sejalan dengan yang saya lihat pada diri Weah yang baru saya kenal tiga hari yang lalu. Dia sebagai warga lokal yang lahir dan besar di sini miris dengan kondisi yang dialaminya.Ada kala pendatang bisa menjadi pengusaha dan berhasil sementara warga asli hanya menjadi kuli bangunan atau menjadi pelayan di toko kelontong orang Bugis. Menjadi security di swalayan milik keturunan tioghoa adalah yang paling sering saya temui. Dunia kerja memang tidak mengenal asal usul, selama Anda memiliki nilai lebih anda akan diterima, jika tidak sesuai kompetensi maka Anda akan ditolak. Kompetensi inilah yang saya lihat jarang ada atau bahkan tidak terlihat. Mungkin lebih tepatnya belum dipunyai oleh kebanyakan warga asli. Si Weah salah satu dari sekian banyak, mungkin tidak cukup mewakili namun cukup rasanya bagi saya untuk memaham kondisi ini.

Si Weah sebagai warga asli hanya mampu menyelesaikan pendidikan hingga SMA, sementara kuliah yang sudah dua tahun dijalaninya tidak ia lanjutkan terkendala biaya. Kini dia berkerja sebisanya menjadi admin kantor kecil. Weah kecil ternyata berdarah pendatang dari Maluku. Ayahnya orang asli Merauke sementara ibunya asli dari kepulauan Maluku. Lahir di Maluku saat SD pindah ke Merauke untuk mencari kerja karena susah mencari pendidikan dan bersekolah di daerah asalnya. Dia sejak SD sudah hidup merantau sendiri di Merauke. Tinggal di keluarga ayahnya tidak membuat semua menjadi aman. Keluarga ayahnya juga merupakan suku kecil minoritas di Merauke sehingga kehidupan ekonomi pun sulit. Sejak itu dia mulai hidup indekos di rumah sanak saudara yang lain. Saya punya banyak mama karena sering berpindah rumah tumpangan katanya sambil tertawa kecil.

Weah termasuk anak yang beruntung bisa menyelesaikan pendidikan hingga tingkat SMA dengan biaya mandiri. Kini sambil berkerja serabutan dia mulai melanjutkan kuliah yang sempat ditinggalkannya di lembaga pendidikan setara D3 di kampus yang belum terakreditasi. Sembari kuliah dia berkerja sebagai karyawan honorer dengan tanpa ikatan gaji dan bayaran. Dia tidak pernah tahu berapa besar bayaran yang didapat dari keuntungan yang dihasilkan. Diberi berapapun sudah bersyukur.

Berkerja dengan menggunakan ijazah SMA tidak banyak membantu, saat banyak yang membutuhkan pekerjaan sementara lapangan pekerjaan sempit dan kebutuhan hidup semakin tinggi. Memulai usaha pun dia tidak memiliki modal, jangan kan modal uang, modal keterampilan pun nihil. Rasanya semakin sulit berdiri di tengah terpaan kebutuhan yang semakin mahal. Terkadang hal ini memunculkan gesekan antara pendatang yang berkerja produktif dengan warga pribumi yang pengangguran. Mungkin ini menjadi pekerjaan rumah sendiri bagi pemerintah daerah untuk mengatasi masalah ini. Pemuda seperti Weah menaruh harapan besar kepada calon pemimpin baru kota ini agar mampu membuka lapangan pekerjaan. Dia tidak ingin berakir hanya sebagai penjaga toko dari ancaman orang mabuk di malam hari. Dia takut menghadapi kemungkinan akan menjadi pemuda pengangguran mabuk atau menjadi sekuriti penghalau pemuda mabok. Dua pilihan yang tidak ingin dipilihnya.

Saat harapan dilempar jauh ke ujung laut, rasanya seperti mimpi untuk meraih hal yang jauh dari genggaman. Suasana damai seperti adanya lapangan pekerjaan, sekolah hingga selesai dan tingkat kesejahteraan tinggi adalah hal yang paling ingin dinikmati. Tidak ada lagi pemuda  pengangguran yang mabuk tengah malam, pengangguran yang berkelahi di ujung gang hanya karena hal kecil. Senang rasanya melihat anak kecil berangkat sekolah penuh semangat dengan sepatu, seragam lengkap dan buku baru. Tidak ada lagi kemiskinan yang menggerogoti kehidupan, semua bisa hidup dengan tenang dan damai. Rasanya semua itu tidak berlebihan dan semua pemuda daerah mengharapkan hal yang sama. Setidaknya Weah masih memendam harapan untuk meraih sesuatu dan menyadari apa yang tengah terjadi. Suatu saat jika saya kembali saya akan cari dan temui pemuda ini dan semoga dia tidak menjadi seorang penjaga toko seperti yang diharapkannya.

Advertisements

About isackfarady

drink water
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Cerita dari Timur Jauh – 2

  1. Saat harapan dilempar jauh ke ujung laut, rasanya seperti mimpi untuk meraih hal yang jauh dari genggaman. Suasana damai seperti adanya lapangan pekerjaan, sekolah hingga selesai dan tingkat kesejahteraan tinggi adalah hal yang paling ingin dinikmati.

  2. Berkerja dengan menggunakan ijazah SMA tidak banyak membantu, saat banyak yang membutuhkan pekerjaan sementara lapangan pekerjaan sempit dan kebutuhan hidup semakin tinggi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s